Thursday, February 19, 2015

Contoh Naskah Drama Bertema Misteri



PSIKOPAT
By : Oryza dan Alency




Prolog :

Hidup bahagia adalah dambaan setiap orang , terutama dalam kehidupan keluarga. Seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik apabila diasuh oleh keluarga yang baik pula, dan begitupun sebaliknya. Raffy adalah anak yang tumbuh dalam kondisi keluarga yang
tidak utuh lagi, ayah dan ibunya terpaksa berpisah karena suatu masalah yang hingga saat ini tak diketahui oleh Raffy apa penyebabanya. Hal ini menjadikan Raffy hidup dalam bayang-bayang akan rasa penasarannya.
Sinta adalah gadis yang kini mengisi ruang hatinya yang kosong, dan sosok yang mencoba untuk menyembuhkan luka batin yang diderita Raffy akibat hubungan orang tuanya. Raffy begitu mencintai Sinta, sama seperti Sinta mencintai Raffy.


Babak I

Sore itu mereka berdua berencana untuk pergi ke sebuah toko buku.
Sinta  : “Raf.. sore ini bisa kan nemenin aku ke toko buku yang biasa??”
Raffy  : “Mau ngapain, Sin??”
Sinta  : “Makan pecel..” (ucap Sinta sambil tersenyum)
Raffy  : “Loh kok makan pecel di toko buku? Bukannya di pinggir jalan dekat rumah kamu ada?” (jawab Raffy dengan raut muka bingung)
Sinta  : “Ya kita mau beli buku lah, Raf. Namanya aja toko buku, ngapain pake nanya?!”
Raffy  : “Hehe .. iya-iya. Emang mau beli buku apa?”
Sinta  : “Ada lah Novel yang baru terbit bulan lalu aku suka banget, baru sempat nyari hari ini. Jadi tolong ya temenin aku, takutnya kehabisan.”
Raffy  : “Iya Sin, pasti aku temenin kok. Tenang aja. Mau pergi jam berapa? Biar aku jemput.”
Sinta  : “Hmm jam 5 an aja lah, soalnya nanti aku ada kerjaan sama Bela di luar.”
Raffy  : “ya udah sekarang aku antar kamu pulang aja ya..”
Sinta  : “OK..”


Babak II
(Di rumah Sinta)
Raffy  : “Ok, Sin. Kita ketemu lagi jam 5 ya..”
Sinta    : “Iya, makasih ya udah dianterin sampe rumah.” (ucap Sinta sembari melambaikan tangan)
Raffy    : “Udah tanggung jawab aku, Sin.. Daah..” (jawabnya sambil membalas lambaian tangan Sinta)

(Di kamar Sinta)
Sinta merebahkan tubunya di ranjang, sambil mengutak-atik handphonenya
Tokk.. tokk..tokk..

Bella   : “Sin, aku boleh masuk ?”
Sinta : “iya bel, masuk aja, pintunya gak di kunci kok”
Bella   : “Gimana, sin, jadi kan kita pergi??”
Sinta  : “Iya, jadi.. Tapi bentaran lah kita perginya, soalnya aku baru nyampe dari kampus. Capek, Bell, lagian kita gak buru-buru banget kan?”
Bella   : “Iya, santai aja kali, sin. Eh.. aku mau cerita tentang Rangga nih.
Sinta  : “Haah.. Rangga?? Kamu naksir Rangga, Bell??”
Bella   : “Husshh.. Dengerin aku cerita dulu.”
Sinta  : “Iya-iya maaf deh, aku dengerin kok”

Tiba-tiba handphone sinta berdering.

Bella   : “Heh, Sin, hp kamu bunyi tuh.
Sinta  : “Oh iya, (Kemudian melihat layar handphone-nya) “Hmm Raffy, Bell. Aku lagi males ngomong sama dia, aku lagi pengen dengerin kamu cerita dulu.”
Bella   : “Angkat aja dulu siapa tau penting.”
Sinta  : “Iya deh.. ”
                (Menelpon) Hallo, Raff, kenapa?. Aduh, Raff aku lagi sibuk dengerin ceritanya Bella nih, ntar aja kamu nelfon lagi. Gak apa-apa kan?. Oke deh, makasih..” (telfon di tutup)
Bella   : “Raffy ngomong apa, Sin?”
Sinta  : “Ah nggak kok. Gak penting. Lanjut aja deh ceritamu..”

Bella dan sinta memulai perbincangan mereka tentang Rangga. Tak lama berselang akhirnya mereka pergi untuk menyelesaikan tugas kuliah.


Babak III
(Di caffe)
Bella dan sinta telah usai menyelesaikan tugasnya.

Sinta  : “Bell, bentar ya, aku mau nelfon Raffy buat jemput soalnya aku mau pergi ke toko buku, hehe mau nyari novel yang baru terbit bulan lalu. ”
Bella   : “Ah kamu, Sin, novel doang di otakmu itu.’’ (mereka tertawa bersama)

Tak lama berselang Raffy datang untuk menjemput sinta.

Raffy  : “Hai, Bell, udah lama di sini?”
Bella   : “Ya lumayan lah. Kita lagi ngerjain tugas paper dari dosen, nyebelin haha”
Raffy  : “Namanya aja anak kuliahan, Bell ya emang gitu”

Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya mereka berpisah. Bella berpamitan untuk pulang sedangkan Sinta dan Raffy menuju toko buku.


Babak IV

                Sinta mencari novel dibagian rak novel. Raffy mengikutinya dari belakang. Sesekali Sinta memperlihatkan novel pada Raffy untuk meminta pendapatnya. Saat Raffy menggeleng, Sinta meletakkan novel itu ke raknya kembali, lalu mencari novel lain. Tak berapa lama handphone Sinta berbunyi. Panggilan dari Bella.

Sinta  :  (mengangkat panggilan) “Hallo, Bel, ada apa?”
Bella   : “Kamu lagi di toko buku, kan?”
Sinta  : “Iya, kenapa?”
Bella   : “Tolong carikan buku untuk bahan tugas kita. Aku lihat ada yang kurang nih.”
Sinta  : “Oh iya, pasti.” (Memutus panggilan)
Sinta  : “Raf, kita ke bagian lain ya.”
Raffy  : (Mengangguk).

                Sinta mencari buku untuk tugas kuliahnya. Raffy yang tidak tahu tugas kuliah Sinta hanya mengekor saja. Sesekali dia mencari perhatian pada Sinta dengan menunjuk salah satu buku. Tapi itu malah membuat Sinta marah karena Raffy menunjukkan buku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas kuliahnya.  Raffy memberikan buku yang lain lagi, tapi Sinta tidak memedulikannya.
                Setelah mendapatkan buku yang dicari, Raffy mengatarkan Sinta pulang.


Babak V

                Sinta dan Bella berada di kelas mereka. Walaupun jam kuliah telah berakhir, tapi mereka masih ingin di sana untuk mengerjakan tugas kuliah mereka. Kemudian Raffy datang.

Raffy  : “Hai, Sinta. Yuk pulang.”
Sinta  : “Kamu pulang aja dulu. Aku masih mau kerja tugas nih.”
Raffy  : “Oh... (ucapnya tak bersemangat, tapi kemudian ekspresinya kembali ceria) aku temenin deh.”

                Sinta tidak menjawab Raffy, dia sibuk dengan lembaran-lembaran kertas miliknya.
                Sejam berlalu, tapi Sinta dan Bella belum juga mengakhiri tugas mereka. Raffy dari tadi hanya duduk sambil memerhatikan Sinta dan Bella. Ekspresinya terlihat tidak senang.

Sinta  : “Bell udahan dulu ya, aku udah capek banget nih..Raffy juga kelihatan bosen nungguin kita”
Bella :  “Iya deh, aku juga udah capek bangett nih.. Raff, maaf ya udah bikin kamu nungguin kita kaya gini”
Raffy  : “Gak apa-apa kok, Bell. Santai aja. Ya udah aku mau ngajakin Sinta jalan dulu nih kelihatannya dia udah bosen banget. Gimana, Sin?”
Sinta  : “Aduhh, Raff, kayaknya kita langsung pulang aja deh, aku capek banget soalnya, mungkin lain waktu kita bisa pergi berdua lagi, atau mungkin bareng Bella juga. Iya kan, Bell?”
Bella   : “Bisa juga kalo akunya diajak hehehe”

Akhirnya pembicaraan mereka terhenti sampai di situ. Bella pulang dengan naik taksi sedangkan Raffy mengantarkan sinta pulang ke rumahnya.


Babak VI

Hampir seminggu Sinta dan Bella menghabiskan waktu bersama demi menyelesaikan tugas yang diberikan dosen kepada mereka, tanpa disadari oleh Sinta ternyata ia telah mengabaikan Raffy dalam waktu yang cukup lama. Namun sama sekali tak ada rasa khawatir di hati Sinta atas sikapnya kepada Raffy yang akan membawa perubahan lain dalam diri Raffy.

Sinta  : “Bell, hari ini kita jadi kan kumpulin paper ke dosen?”
Bella   : “Jadi lah. Kita ketemu di taman ya, soalnya aku masih ada kelas sekarang.”
Sinta  : “Iya deh, siip...”
(mereka berpisah)

Setelah menyelesaikan kelasnya, Bella segera menuju ke taman tempat di mana dia akan menemui Sinta. Namun tiba-tiba ada sosok yang mendekapnya dari belakang, orang itu menggunakan jubah hitam dan topi. Bella di bawa ke belakang gedung.

Bella     : “Apa yang kamu inginkan? Heeiii...!!” (teriak bella yang saat itu sedang ditutup matanya)
Mr. X   : “Jangan banyak bicara, Bella, atau pisau ini akan menyentuh lehermu yang putih mulus itu. ”(ucapnya sambil mengelus pipi bella)
Bella   : “Apa salahku terhadapmu? Aku bahkan tak mengenalmu!!”
Mr. X   : “Kau sangat mengenalku.. ” (sambil mengelilingi bella yang sedang terduduk dengan penutup mata dan tangan yang diikat)
Bella   : “Apa yang akan kau lakukan terhadapku?” (ucapnya sambil menangis)
Mr. X   : “Sederhana saja, Bella.. Aku mau nyawamu. Tidak sulit bukan? Ini  tak akan sakit.”
Bella   : “Tidaaak, jangan !! katakan apa salahku terhadapmu?”
Mr. X   : “Sudahlah, Bella, kau telah merebutnya dariku. Itu yang perlu kau tahu.”
Bella   : Siapa?? Siapa maksudmu??”

Tanpa menjawab pertanyaan dari bella , pisau itu telah menghujam tubuh Bella. Tubuhnya jatuh tak bernyawa. Orang berjubah hitam itu membawa tubuh Bella pergi dari tempat itu, menyingkir ke tempat yang lebih tersembunyi, yaitu gudang kampus.
Setelah memasukkan tubuh Bella ke dalam gudang, dia segera keluar dari gudang itu. Tapi, tanpa ia sadari ada seseorang yang melihatnya keluar dari gudang. Dewi namanya.

Dewi   : “Siapa itu? Ah, bodo’ amat. Aku ke sini kan di suruh ngambil barang di gudang.” (Dewi masuk ke dalam gudang). “Aah.. Kenapa aku yang disuruh ambil bola basket di sini? Mana ini gudang sudah lama gak dimasuki. Kenapa tidak beli bola baru saja, pasti lebih bagus. Jangan-jangan nanti bolanya udah bolong digigit tikus.” (Dia mengobrak-abrik kardus-kardus)
                “AAARRGHH….!!”

                Dewi berteriak melihat sosok perempuan tergeletak di lantai dengan badan berlumuran darah.
(Di taman kampus)

                Sinta sedang duduk sendiri menunggu kedatangan Bella yang tak kunjung hadir, sudah hampir 2 jam ia menunggu tanpa kepastian. Sinta telah mencoba menghubungi Bella namun handphonenya tidak aktif.

Sinta  : “Aduuhh Bella kemana sih hp nya gak aktif lagi..” (ucap sinta sambil terus mencoba menghubungi Bella)

Tiba-tiba Rangga datang menghampiri Sinta yang sedang gelisah menunggu Bella.

Rangga: “Lagi apa, Sin? Kok sendirian?”
Sinta  : “Eh.. kamu, Rangga. Aku lagi nungguin Bella nih, tapi gak dateng-dateng. Aku udah coba hubungi dia tapi hp nya gak aktif.
Rangga: “Oo.. Aku temenin ya.”
Sinta  : “Boleh.”
                Kemudian Rangga duduk di sebelah Sinta.
Rangga: “Udah berapa lama nunggunya?”
Sinta  : “Nggak tau. Sejam lebih lah.”
Rangga: “Mungkin Bella lagi ada urusan mendadak kali, Sin..”
Sinta  : “Tapi kan setidaknya dia ngabarin aku.”
Rangga: “Namanya aja mendadak. Ya nggak sempat ngabarain lah… Eh, aku duluan ya. Itu Raffy datang.”

                Sinta menengok ke samping. Dilihatnya Raffy yang sedang berjalan kearahnya.
                Rangga berjalan pergi melawati arah yang berlawanan dengan Raffy.

Raffy  : “Ngapaim tuh si Rangga?”
Sinta  : “Enggak. Kita cuma ngobrol kok, sekalian nemenin aku nunggu Bella yang datang-datang juga.”
Raffy  : “Bella?”
Sinta  : “Iya, Bella. Kita udah janjian ketemu di sini mau ngumpul tugas  ke dosen bareng.”
Raffy  : “Barang kali dia udah ngumpul duluan.”
Sinta  : “Masa’ sih? Gak mungkin. Dia kan udah janji sama aku ngumpul tugasnya barengan.”
Raffy  : “Gimana kalau aku temeni kamu ngumpul tugas?”
Sinta  : “Bella gimana?”
Raffy  : “Aku kan sudah bilang, dia mungkin udah ngumpul tugasnya. Lagian kamu gak cape’ apa nunggu di sini lama banget. Kalau tugasmu gak diterima dosen gara-gar nunggin dia, padahal dia udah ngumpul duluan gimana?”
Sinta  : “Tapi…”
Raffy  : (Memotong kalimat Sinta) “Mau ditemeni, gak?”
Sinta  : “Ya udah deh.”

                Raffy dan Sinta pergi meninggalkan taman kampus, tapi saat mereka baru berjalan beberapa langkah, Dewi berlari hingga menabrak Sinta. Wajahnya pucat dan panik.

Dewi   : “Sintaaa...” (napasnya terengah-engah)
Sinta  : “Ada apa, Wi,?
Dewi   : “Bella, Sin.. Bella, Sin..”
Sinta  : “Bella kenapa? Kamu tau Bella ada di mana sekarang? ”
Dewi   : “Bella udah gak ada, Sin..”(ucap dewi dengan menangis tersedu-sedu)
Raffy  : “Maksud kamu apa, Wi.. Bella udah gak ada itu apa?”
Dewi   : “Aku nemuin Bella terkapar di gudang dengan darah menyelemuti tubuhnya, pas aku cek napasnya, dia udah gak bernapas lagi.
Sinta  : “Apaa!!?? Kamu bohong kan, Wi?? Gak mungkin. (Sinta mendekap mulutnya)
Dewi   : “Aku serius, Sin…. Aku pergi dulu ya. Aku mau kasih tau yang lain.”

                Sinta hanya mengangguk dengan tatapan kosong ke depan.

Sinta  : “Raf, pantesan Bella gak datang-datang. Dia….” (Sinta menangis).
Raffy  : (Memeluk Sinta untuk menangkannya).


Babak VII
(Di rumah Sinta)
                Setelah sehari kematian Bella, Dewi datang ke rumah Sinta.

Sinta  : (Membuka pintu) “Dewi? Ngapain malam-malam datang ke sini? Masuk dulu yuk.”
Dewi   : (Masuk ke dalam rumah Sinta).  “Maaf, aku ganggu kamu malam-malam. Aku gak tau harus pergi ke mana.”
               
Sinta mengisyaratkan pada Dewi untuk duduk di kursi. Dewi pun duduk di kursi sebelah Sinta.

Sinta  : “Memangnya ada apa?”
Dewi   : “Aku diminta polisi untuk menjadi saksi atas kematian Bella. Aku bingung harus mengatakan apa dipersidangan nanti.”
Sinta  : “Katakan saja apa yang kamu ketahui.”
Dewi   : “Waktu itu, aku ke gudang. Sebelum aku masuk gudang, aku melihat seseorang berjubah hitam keluar dari gudang.”
Sinta  : “Siapa?”
Dewi   : “Aku gak tau, soalnya dia pake topi, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku seperti mengenalnya. Kalau dilihat dari perawakannya, dia adalah laki-laki.”
Sinta  : “Kamu katakan saja seperti itu pada polisi.”
Dewi   : “Tapi, kalau pembunuh itu mengincarku bagaimana?”
Sinta  : “Kamu gak usah takut. Pembunuh itu pengecut. Beraninya diam-diam.”
Dewi   : “Sinta.. Malam ini aku nginep di rumahmu ya. Soalnya aku takut di rumah sendirian. Orang tuaku lagi pergi keluar kota.”
Sinta  : “Gak apa-apa. Nginep aja di sini. Aku seneng kok kalau ada temen… Yuk kita ke kamarku.”

(Di kamar Sinta)

Dewi telah tertidur, sedangkan Sinta masih belum bisa tidur. Jadi, dia mengambil novel dan membacanya. Baru lembar pertama dia baca, handphone-nya berbunyi. Sinta duduk dari kasur ke kursi di dekat meja belajarnya agar tidak mengganggu Dewi.

Sinta  : “Hallo, Raf.”
Raffy  : “Kamu belum tidur kan, Sinta?”
Sinta  : “Belum. Ada apa? Ini kan udah larut malam.”
Raffy  : “Aku gak bisa tidur. Kita ngobrol yuk.”
Sinta  : “Ok.. Bicara aja. Aku dengerin kok.”
Raffy  : “Tapi aku gak punya topik pembicaraan.”
Sinta  : “Kalau gitu, aku aja yang cerita… Raf, barusan Dewi cerita sama aku kalau sebelum dia lihat mayat Bella, dia sempat lihat pembunuh Bella. Belum pasti sih itu pembunuhnya atau bukan, tapi dari yang dia ceritakan, orang itu mencurigakan.”
Raffy  : “Dewi lihat pe..pembunuh Bella? Dia lihat mukanya, gak?”
Sinta  : “Enggak, soalnya orang itu pake topi dan berjas hitam. Mencurigakan banget, kan?”
Raffy  : “I..i..iya. Mencurigakan.”
Sinta  : “Dia pasti orang di kampus kita. Dewi bilang orangnya gak asing waktu dia lihat sebagian mukanya sekilas. Dewi takut banget dijadikan saksi. Makanya dia sekarang nginep di rumahku, soalnya orang tuanya lagi gak ada di rumah.”
Raffy  : “O…gitu ya…. Eh, Sin, udah dulu ya. Kayaknya aku udah mulai ngantuk nih.”
Sinta  : “Ya udah deh, sampai ketemu besok.”
                Sambungan putus.


Babak VIII
(Di kampus)
                Seharian itu Sinta menemani Dewi yang gelisah karena takut dengan si pembunuh.

Raffy  : “Orang tuamu masih belum pulang, Wi?”
Dewi   : “Belum. Pulangnya masih lusa. Nanti malam aku nginep di rumahmu lagi ya, Sin?”
Sinta  : “Maaf deh, Wi. Nanti malam ada acara keluarga. Mending kamu nginep di rumah temen yang lain.”
Dewi   : “Ya udah deh, gak apa-apa. Aku di rumahku saja, soalnya aku gak terlalu akrab dengan yang lain.”
Sinta  : “Sekali lagi maaf deh, Wi.”
Dewi   : “Aku kan udah bilang gak apa-apa.”


Babak IX

(Di rumah Dewi)
Dewi masuk ke kamarnya setelah pulang dari kampus. Dia meletakkan tas dan buku-bukunya di atas meja, kemudian dia pergi ke dapur untuk minum. Saat dia menuangkan air ke dalam gelas, terdengar suar aneh. Dewi meletakkan gelas minumnya kemudian mengecek rumah. Rasa parnonya muncul. Tidak menemukan hal aneh, dia kembali ke kamarnya.
Sontak dia berteriak saat melihat orang berjubah hitam dan bertopi hitam berdiri di sudut kamarnya dengan wajah menunduk.

Dewi   : “Si…siapa kamu? Apa maumu?”
Mr.X    : (Mengangkat wajahnya, tapi wajah bagian bawah yang terlihat). “Aku adalah malaikat mautmu. Dan aku ingin mengambil nyawamu.”
Dewi   : “Apa maksudmu?”

                Mr.X melangkah maju. Dewi mundur beberapa langkah.

Mr.X    : “Kamu janga coba-coba berpikir untuk lari, karena rumah ini, pintu bahkan jendelanya sudah aku kunci. Kamu pasti tidak bisa membukanya karna kucinya berada di tanganku.”
Dewi   : “Kamu pasti pembunuh Bella.”
Mr.X    : (Memutar-mutarkan pisau yang dipegangnya) “Benar.”
Dewi   : “Kenapa kamu membunuh Bella?”
Mr.X    : “Alasan itu tidak perlu kamu tau, karena kamu sudah cukup tau banyak.”

                Mr.X sudah sangat dekat dengan Dewi. Di kata terakhirnya, dia bahkan menodongkan pisau di bawah dagu Dewi sehingga wajah Dewi terangkat. Diposisi itulah Dewi dapat melihat wajah pembunuh Bella.

Dewi   : “Kamu…”
Mr. X   : (Memotong kalimat Dewi) “Iya.. Aku pembunuh Bella dan sekarang menjadi pembunuhmu juga.” (Kemudian menusuk perut Dewi).


Bagian X

(Di taman)
                Sinta menemui Rangga yang sedang membaca buku di taman.

Sinta  : “Boleh ganggu bentar?”
Rangga: “Eh, kamu.” (Menutup bukunya). “Boleh aja.”
Sinta  : (Duduk di samping Rangga). “Aku mau nyampaikan pesan dari temenku. Sebenarnya dia gak bilang sih kalau aku harus sampaikan ini ke kamu. Tapi karena dia udah gak ada, aku rasa ini harus aku sampaikan.”
Rangga: “Tunggu.. Apa maksudnya udah gak ada?”
Sinta  : “Ini soal Bella. Sebelum Bella meninggal karena dibunuh, dia sempat cerita dihari sebelumnya kalau dia suka sama kamu.

                Rangga hanya diam.

Sinta  : “Sebenarnya udah gak penting sih ya.”

                Tiba-tiba Raffy datang.

Raffy  : “Sinta! Ngapain kamu di sini?”
Sinta  : “Aku cuma ngobrol sebentar sama Rangga.”
Raffy  : “Tentang apa?”
Sinta  : “Tentang Bella.”
Raffy  : “Bella?”
Sinta  : “Udah lah. Udah gak penting lagi. Aku pergi dulu ya, Rangga.” (Sinta pergi sambil menggandeng Raffy).

                Sinta dan Raffy meninggalkan taman. Di tengah perjalanan, handphone Sinta berbunyi. Tiba-tiba dia menangis saat membaca sms itu.

Raffy  : “Ada apa, Sinta?”
Sinta  : “Raf, Dewi…Dewi…”
Raffy  : “Dewi kenapa?” (Mulai gugup)
Sinta  : “Dewi meninggal. Katanya meninggalnya sama kayak Bella, dibunuh.”

                Handphone Raffy berbunyi, ada pesan masuk. Kemudian dia membaca pesan itu.

Sinta  : “Kamu juga dapat sms, kan?”
Raffy  : “I..Iya.”


Babak XI

(Di rumah Dewi)

Rangga: “Aku gak nyangka kalo Dewi akan berakhir seperti Bella, kasian Dewi .. Semoga dia  tenang di alam sana”
Sinta  : “Aku takut, Raff, .aku takut kalo aku yang akan jadi korban selanjutnya oleh pembunuh Bella dan Dewi”
Raffy  : “Jangan khawatir, Sin. Gak akan terjadi apa-apa sama kamu ”
Sinta  : “Tapi, Raff.. Dewi adalah orang pertama yang tau tentang kematian Bella, dan tidak lama setelah itu Dewi dibunuh, Raff.. dan aku.. dan aku adalah orang pertama yang diceritakan Dewi tentang kecurigaannya itu. Aku takut, Raff..!!”
Raffy  : “Tenang, Sin.. kamu akan baik baik saja. Aku ada di sini buat jagain kamu”
Sinta  : “Nggak, Raff. Aku gak mau kamu juga jadi korban kalo aku nantinya benar-benar akan dibunuh sama orang itu.”
Raffy  : “Tapi, Sin..”
Sinta  :  “Udahlah, Raff.. percaya sama aku.”
Rangga: “Raff, Sin.. kita pulang yuk!!”


Babak XII

Dua hari semenjak kepergian Dewi, Sinta diliputi kegelisahan. Rangga datang mencoba menghibur.
(Di taman)

Rangga: “Gimana kabar kamu Sin? Kelihatannya akhir akhir ini kamu gelisah banget, kurang enak badan ya?”
Sinta  : “Enggak kok, aku baik baik aja cuma mungkin cuaca gak mendukung.”
Rangga: “Udahlah, Sin, aku tau kok kamu lagi ketakutan banget karena kepergian Bella dan Sinta dalam waktu yang berdekatan.”
Sinta  : “Aku takut, Ngga, aku takut kalo aku akan berakhir sama seperti mereka.”
Rangga: “Tenang aja, Sin, semua akan baik baik saja.”
Sinta  : “Iya, Ngga .. makasih udah bantu nenangin aku.”
Rangga: “Ngomong-ngomong Raffy kemana, kenapa gak sama kamu?”
Sinta  : “Aku minta dia supaya menjauh dari aku sementara ini , aku takut dia bakal kenapa-napa karena aku”

(Di jalanan)

Rangga sedang berjalan pulang menuju rumahnya, tanpa dia sadari, ada seseorang berjubah hitam berjalan di belakangnya. Orang berjubah hitam itu mengangkat tangannya yang memegang pisau, dia siap menusuk Rangga. Tapi sebelum pisau itu mengenai tubuh Rangga, ia berbalik dan berhasil menampik pisau yang telah terarah di hadapannya.

Pisau itu terlempar jatuh ke tanah

Rangga : “Siapa kamu ?”
Tanpa bermaksud menjawab pertanyaan dari Rangga, sosok berjubah hitam itu berusaha mengambil pisau yang terjatuh tepat di bawah kaki Rangga, namun belum sempat tergapai oleh tangan orang itu, Rangga  menendangnya menjauh, dan kemudian membuka topi yang dikenakan sosok berjubah hitam itu.
Rangga: “Raffy!! Jadi kamu sosok yang berjubah hitam itu? Jadi kamu yang sudah membunuh Bella dan Dewi ? tapi kenapa Raff? Salah mereka apa?”
Raffy  : “Karena aku mengaharapkan mereka mati. Sederhana bukan? Mereka pantas mendapatkannya ” (ucapnya sambil tertawa. Kemudian dia melayangkan pukulan kearah Rangga).

                Mereka beradu tinju. Perkelahianpun terjadi. Rangga jatuh tersungkur, Raffy siap melayangkan pukulan terakhirnya. Tapi, tiba-tiba Sinta datang.

Sinta  : “Raffy!! Rangga!! Ada apa ini?”
Raffy  : (Berbalik) “Sinta?”
Rangga: “Pergi, Sin. Menjauh!”
Sinta  : “Kenapa? Ada apa?”
Raffy  : “Sinta! Jangan menjauh dariku.”
Rangga: “Pergi, Sin. Raffy yang membunuh Bella dan Dewi.”
Sinta  : “Apa?! Jubah. Kenapa kamu pakai jubah hitam, Raff? Katakan kalau ini pertama kalinya kamu memakai jubah hitam.”
Raffy  : “Sinta, jubah ini udah lama aku miliki, tapi aku baru memakainya akhir-akhir ini.”
Rangga: “Raffy… Kamu manusia biadab!”
Raffy  : (Berbalik ke arah Rangga) “Apa?! Kamu bilang begitu karena aku akan membunuhmu?! Begitu?”
Sinta  : “Raffy… Kamu….”
Raffy  : “Sinta, kamu jangan khawatir. Aku akan menghabisi orang bermulut kotor ini.”
Rangga: “Dari pada kamu, orang bertangan kotor!”
Sinta  : “Sebenarnya apa yang terjadi?”
Raffy  : (Mendekati Sinta). “Sinta, setelah aku membunuh Rangga, kita akan hidup bahagia, karena tidak ada yang mengganggu hubungan kita seperti Bella, Dewi, dan orang itu .”(Menunjuk Rangga).
Sinta  : “Apa?! Jadi kamu yang membunuh Bella dan Dewi?”
Raffy  : “Sssttt… Kamu tenang saja. Kehidupan bahagia kita akan kembali kok.”
Sinta  : “Bahagia apa, Raf? Kamu sudah membunuh teman-temanku!”
Raffy  : “Sinta, sayang…” (Memeluk Sinta)
Sinta  : (Mendorong Raffy). “Aku pikir kamu orang yang baik. Ternyata aku salah.”
Raffy  : “Sinta, setelah apa yang aku lakukan untuk hubungan kita, kamu lakukan ini terhadapku? Kamu tidak mau kan berakhir seperti Bella dan Dewi.”
Rangga: (Berdiri) “Menjauh dari Sinta, Raf!” (Menhajar Raffy dari belakang)
Raffy  : (Terjatuh, tapi bangkit lagi kemudian membalas pukulan Rangga hingga berkali-kali)
Rangga: (Terkapar tak berdaya di tanah)
Sinta  : “Hentikan, Raf!!” (Mencegah tinju Raffy yang berikutnya)
Rangga: “Pergi, Sin.”

Raffy menarik tangan Sinta dan membawanya pergi. Rangga berusaha mengjarnya, tapi tak sanggup.

(Rumah Raffy tepatnya di kamar rahasia Raffy)
                Tangan dan kaki Sinta diikat di kursi, tangannya juga disumpal dengan kain. Pipinya basah oleh air yang keluar dari matanya.
Raffy  : (Membuka kain dimulut Sinta) “Aduh sayangku kenapa nangis? Sakit ya? Kalau kamu mau aku melepaskannya, katakan kalau kamu ingin selalu bersamaku.” (Melepas kain dimulut Sinta) “Katakan, sayang.”
Sinta  : “Untuk apa aku bersama seorang pembunuh!?”
Raffy : “Sayang, jangan begitu. Itu kan untuk kebaikan kita.” (Mengelus pipi Sinta)
Sinta  : (Memalingkan wajahnya) “Kebaikan apanya! Kamu telah membunuh teman-temanku! Itu tindakan buruk!”
Raffy  : “Jadi, apa yang harus aku lakukan? Apa kita juga harus pergi bersama mereka? Kalau iya, aku akan mengirimmu ke sana terlebih dahulu.” (Menodongkan pisau keleher Sinta).

BRAAKK….
                Terdengar suara pintu di dobrak.

Rangga: (Berteriak dibelakang pangguung) “Raffy! Kamu pasti sembunyikan Sinta di sini! Bebaskan dia!

Sinta  : “Rang…”
Raffy  : (mendekap mulut Sinta dengan tangannya) “Sttt… Jangan sampai Raffy membatalkan kebahagian kita.” (kembali menodongkan pisau ke leher Sinta)

Rangga: (Dibelakang panggung) “Raffy! Keluar kamu! Jika kamu memang laki-laki jantan, hadapi aku dan bebaskan Sinta.”

Raffy  : (Menurunkan pisaunya) “Pengganggu!”

                Terdengar suara langkah Rangga yang semakin mendekat.

Raffy  : (Menyembunyikan Sinta di bawah meja)

                BRAKK…..
                Rangga mendobrak pintu dimana Sinta dan Raffy berada.

Rangga: “Dimana Sinta?!”
Raffy  : “Di sini…” (Menunjuk dada sebelah kirinya) “Di hatiku.”
Rangga: “O...Di situ? Jadi, aku harus merobek dadamu?!” (Mengambil balok kayu yang berada di dekatnya, kemudian mengarahkannya pada Raffy)
Raffy  : (Menghindari pukulan Rangga, kemudian dengan jurus silat, dia melempar balok kayu dari tangan Rangga).
Rangga: (Menghindari serangan Raffy dengan pisaunya)
Raffy  : (Mencengkeram leher Rangga dengan tangan kiri, kemudian tangan kanannya siap menusukkan pisau ke perut Rangga)
Sinta  : (Melepas ikatan ditangan dan kakinya. Lalu segera mengambil balok kayu dan memukulkan ke kepala Raffy bagian bawah sebelum Raffy menusukkan pisau ke perut Rangga)
Raffy  : (Jatuh tak berdaya)
Sinta  : (Berlari mendekati Rangga)
Rangga: “Tidak apa-apa, tenang. Dia sudah gak bisa apa-apa.”

Niyu….Niyu….Niyu….

Sinta  : “Kamu manggil polisi?”
Rangga: (Mengangguk).


Epilog:

Raffy  : (Tangan dan kakinya diikat di tempat tidur) “Sinta! Dimana kamu, Sinta! Kita harus selalu bersama! Sinta kemarilah! Suter… aku gak gila! Suster…Lepas! Lepas! Sintaaaaa…! (Memberontak)

(Di tempat lain)

Sinta : “Rangga, makasih ya sudah nolongi aku bebas dari Raffy. Aku gak tahu kalau dia itu psikopat. Kasihan Sinta dan Bella. Gara-gara aku, mereka jadi korban”
Rangga: “Sekarang kamu gak perlu cemas, karena dia gak akan ganggu kamu atau siapapun lagi.”
Sinta  : (Menyandarkan kepalanya di bahu Rangga)



~ THE END ~

8 comments:

  1. Replies
    1. terimasih sudah membacanya. Maaf, kalau tidak nyaman dengan typo yang bertebaran. Lain kali akan lebih saya perhatikan. Kurang teliti deh ini saya

      Delete
  2. bagus.. ceritanya sangat menarik dan menghibur

    ReplyDelete
  3. Aciee, hai teman lama, partner kerja, ternyata ceritanya diabadikan di sini. Keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. EEh, ternyata kamu berkomentar. Saya baru lihat. Haha...

      Delete
  4. min, boleh saya angkat jad film ga

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku kaget baca ini. Gak pernah buka komentar, karna aku pikir gak bakal ada yang komentar. Duh. Udah tahun lalu ya komentarnya. Kalau mau diskusi boleh mampir ke IG @oryzatika . Makasih untuk apresiasinya, kak

      Delete
  5. Halo kak, sebelumnya mohon maaf kak, saya ijin copas untuk tugas kuliah apakah bisa kak? Terimakasih sebelumnya 🙏

    ReplyDelete