Wednesday, February 18, 2015

Cerpen | Melody Benang Merah by Oriza

Melody Benang Merah


            ♪ Kamu di sini hanya untukku. Aku di sini karena kamu. This is our destiny.
♫ ♫ ♫
            Sore itu, saat burung-burung walet terbang ke sana ke mari mencari sarang untuk mereka tinggal, sebuah taman yang terletak di tengah kota tak luput dari kesibukan juga. Kesibukan manusia berbeda dengan kesibukan burung-burung itu. Manusia tidak punya sayap untuk terbang. Oleh karena itu, kesibukan manusia ada saat manusia itu telah memijak bumi.
            Di sore hari, kesibukan manusia tidak sepusing kesibukan dipagi hari. Sore adalah saat yang paling asyik untuk berjalan-jalan di taman bersama teman, kerabat, atau pasangan. Saling bercengkerama, berbagi pengetahuan, pengalaman, atau gosip sekalipun.
            Suara petikan gitar terdengar syahdu. Seorang pemuda bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Dia bukan pengamen. Itu telihat jelas dari tulisan yang dia pajang. “BUKAN PENGAMEN”, begitulah yang tertulis di kertas berwarna putih polos itu.
            Tak jarang orang yang kebetulan mendengarnya memainkan musik, berhenti sejenak untuk mendengarkan. Ada juga yang hendak memberikan uang, tapi saat melihat tulisan yang terpajang, orang itu menarik kembali tangannya.
            ♪ Awalnya aku tak percaya bahwa ini takdir. Awalnya aku tak menyangka kita bertemu seperti ini. Aku menghindarimu, kamu menghindariku. Tapi ternyata kita bertemu.
            Jrengg….
            Pemuda itu mengakhiri lagunya.
            “Aku suka!” seru seorang gadis berparas cantik yang berdiri dihadapannya. Dilihat dari wajahnya, gadis itu sepertinya beberapa tahun lebih muda darinya.
            Pemuda itu tersenyum. “Terimakasih,” ucapnya.
            “Aku suka lagu itu.”
            “Oh, lagunya,” ucap pemuda itu yang salah mengira maksud gadis dihadapannya.
            “Melody Benang Merah cipta Deru Alvin yang dipopulerkan oleh istrinya, Sarah Muler. Lagunya terdengar biasa saja, tapi penghayatan Sarah Muler dalam menyanyikannya, ditambah kisah awal mula terciptanya lagu ini, sangat menyentuh hati,” ujar gadis itu panjang lebar.
            “Salut. Jarang ada orang yang masih mengenal lagu ini, lagu yang sudah lama hilang seiring dengan kepergian pasangan Deru dan Sarah. Pasti kamu sangat menyukai lagu ini.”
            “Tentu saja. Aku saaangat suka. Aku juga suka permainan gitarmu. Boleh ajari aku?” Gadis itu duduk memohon di samping pemuda itu.
            “Apa?”
            “Oh iya, kita belum kenalan.” Gadis itu menepuk jidatnya sendiri. “Aku Mayla,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
            “Aku Farhan,” sahutnya membalas perkenalan gadis yang bernama Mayla itu.
            “Mayla. Kamu pasti lahir bulan Mei. Iya, kan?” tebak Farhan.
            “No..no..no..” Mayla menggeleng sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Hh… banyak orang yang salah sangka dengan namaku. Memang sih, May dalam namaku berarti bulan Mei, tapi itu bukan bulan kelahiranku. Aku lahir bulan Juni.”
            “Lalu, apa arti dari namamu?” tanya Farhan penasaran.
            Mayla memperbaiki posisi duduknya. “May artinya bulan Mei. Sedangkan la… kamu tahu urutan tangga nada, kan?”
            Farhan mengangguk. “Do Re Mi Fa Sol La…” Farhan berhenti. Dia memutar otaknya, sadar akan sesuatu.
            “Nah, La itu ada diurutan ke enam dari tangga nada. Jadi, maksudnya adalah tanggal enam. Bulan Mei tanggal enam orang tuaku menikah. Artinya, aku adalah buah cinta mereka.”
            Farhan mengangguk tanda mengerti. “Cara orang tuamu memberikan nama sangat unik.”
            “Hehehe…” Mayla hanya tersenyum nyengir.
            Sore itu adalah pertemuan pertama Farhan dengan Mayla. Permintaan Mayla yang ingin diajari gitar oleh Farhan akhirnya disetujui. Setiap sore di taman dan dijam yang sama, mereka bertemu. Walaupun perkenalan mereka hanya sebatas itu saja, tapi mereka seperti telah berteman lama.
            Farhan memang empat tahun lebih tua dari Mayla. Mayla masih duduk di bangku SMA, sedangkan Farhan adalah anak kuliahan. Tapi, mereka mengobrol seolah mereka seumuran.
            Suatu siang, Farhan terpaksa memberitahu Mayla bahwa dia tidak bisa menemuinya sore ini karena ada tugas kuliah yang harus dia selesaikan, dan itu tidak bisa ditunda. Beberapa menit setelah Farhan mengirim pesan singkat, Mayla membalasnya.
            Fom Mayla to Farhan: Aku mengerti. Tidak apa-apa. Besok kita masih bisa bertemu, kan? J
            Farhan tersenyum lega saat membaca balasan dari Mayla. Jarinya mengetikkan sesuatu lagi untuk membalasnya. Tak lupa dia menambahkan emoticon juga.
            From Farhan to Mayla: Tentu J
♫ ♫ ♫
            Satu tahun berlalu setelah Farhan dan Mayla saling kenal. Sekarang, mereka akan sulit untuk bertemu. Mayla sudah kelas XII dan tiga bulan lagi akan melaksanakan ujian, otomatis waktu sore Mayla tidak sebebas dulu. Dia harus pengayaan setiap sore. Sedangkan Farhan, dia jauh lebih sibuk daripada Mayla. Dia sudah semester akhir dan bulan ini dia harus KKN.
            Dengan kesibukan mereka, Farhan dan Mayla memutuskan untuk bertemu sekali sebelum hari ujian Mayla dan tugas KKN Farhan tiba.
            “Terimakasih sudah banyak mengajariku. Padalah aku hanya memintamu mengajariku bermain gitar, tapi kamu mengajariku banyak hal,” ucap Mayla. Ditatapnya langit biru di sore itu.
            “Jangan berkata seperti itu. Ini seakan-akan kita tidak bisa bertemu lagi.”
            “Apa kamu percaya takdir benang merah?” tanya Mayla tiba-tiba.
            “Kita bertemu. Ini seperti sebuah takdir. Jari kita bersatu. Di situlah ujung benang merahku,” ucap Farhan mengutip satu bait lirik lagu Melody Benang Merah.
            “Lagu itu adalah kisah nyata pasangan Deru dan Sarah. Aku menyukai lagu itu. Tentunya karena aku mempercayainya,” lanjutnya.
            “Waktu bisa memutarkan segalanya, tapi takdir tetap akan mempertemukan kita.” Gantian Mayla yang mengutip lirik lagu Melody Benang Merah.
            “Aku tidak tahu siapakah yang ada di ujung benang merahku,” ujar Mayla sambil melihat jari kelingkingnya. “tapi aku berharap orang itu adalah kamu.” Kemudian pandangannya mengarah pada Farhan.
            Farhan terpaku mendengar perkataan Mayla yang terkesan menyatakan perasaannya.
            Hening. Tak ada suara dari mulut mereka lagi. Burung walet yang biasanya terbang di langit juga tidak ada yang melintas.
            “Aku juga berharap ujung benang merahku adalah kamu,” ucap Farhan kemudian.
            Mayla tersenyum mendengar ucapan Farhan.
“Hari ini aku mau jalan-jalan. Aku mau menghabiskan waktuku hari ini hanya denganmu, karena aku tidak tahu ini akan menjadi pertemuan terakhirku atau bukan.”
“Pertemuan terakhir? Maksudnya?”
“Setelah lulus SMA, ayahku berencana mengirimku ke luar negeri,” jawabnya dengan muka yang ditekuk. Sedetik kemudian wajahnya kembali ceria.
“Waktu bisa memutarkan segalanya, tapi takdir tetap akan mempertemukan kita.” Kembali Mayla mengutip lirik Melody Benang Merah.
♫ ♫ ♫
            Taman kota mulai sedikit berubah. Perubahannya sangat berbeda dari empat tahun silam. Sudah hampir setahun, setiap malam minggu selalu ada pagelaran musik di taman tempat orang-orang biasanya menghabiskan waktu untuk refreshing.
            Malam itu, seperti biasa banyak band-band kota yang meramaikan malam di taman kota. Kali ini, Farhan berniat ikut menyumbangkan suaranya dalam pagelaran. Dia tahu ini sudah empat tahun setelah dia berpisah dengan Mayla. Farhan berharap Mayla dapat melihatnya malam ini.
            “Baik, setelah kita gila-gilaan dengan lagu rock tadi, sekarang waktunya kita mendengarkan lagu slow dari Farhan, Melody Benang Merah,” teriak pembawa acara mempersilahkan Farhan naik.
            “Saya mempersembahkan lagu ini untuk seseorang yang juga sangat menyukai lagu ini,” ucapnya sebelum bernyanyi.
            Jreng…
            Farhan memainkan senar gitarnya.
            ♪ Awalnya aku tak percaya bahwa ini takdir. Awalnya aku tak menyangka kita bertemu seperti ini. Aku menghindarimu, kamu menghindariku. Tapi ternyata kita bertemu.
Kita bertemu. Ini seperti sebuah takdir. Jari kita bersatu. Di situlah ujung benang merahku.
Bagaikan melodi yang indah, kita warnai hari-hari bersama.
Waktu bisa memutarkan segalanya, tapi takdir tetap akan mempertemukan kitaKamu di sini hanya untukku. Aku di sini karena kamu. This is our destiny.
Di tengah-tengah lagu, Farhan melihat Mayla berdiri dibarisan penonton paling belakang. Awalnya dia mengira itu adalah halusinasinya, mengingat dia sering berhalusinasi tentang Mayla yang berada di sisinya. Tapi kali ini sosok Mayla seolah nyata. Dia tersenyum pada Farhan.
Usai bernyanyi, segera Farhan berlari mengejar sosok Mayla yang pergi meninggalkan tempatnya semula.
“Mayla,” ucap Farhan sambil mencari-cari sosok Mayla di tengah kerumunan orang-orang. Dia tampak kebingungan. Dia yakin kalau yang dilihatnya bukan halusinasi. Tapi, kemana Mayla? Kenapa dia pergi setelah melihatnya?
Dengan lemas, Farhan memutuskan untuk pulang. Mungkin hari ini dia terlalu lelah atau mungkin terlalu berharap Mayla datang hari ini sampai-sampai halusinasinya tampak nyata.
♫ ♫ ♫
            Matahari telah membumbung tinggi, memaksa manusia untuk kembali beraktivitas. Seperti biasa di Minggu pagi, Farhan ke tempat kursus untuk mengajari anak-anak bermusik. Hari ini dia akan mengajar murid baru. Itu artinya dia harus memulainya dari awal, memperkenalkan macam-macam not nada. Dan itu artinya pula mengingatkannya pada Mayla.
            Farhan tidak bisa menahan rasa rindunya yang telah memupuk selama 4 tahun. Dia tidak mau jika tidak bisa bertemu dengan Mayla lagi.
Setelah pelajaran kursus usai, Farhan tak langsung pulang. Dia menunggu semua muridnya pulang, lalu dia memainkan piano, instrumen Melody Benang Merah. Sambil memencet tuts piano, matanya tak sengaja melihat Mayla lagi dari balik jendela. Entah itu halusinasinya lagi atau bukan. Mayla berdiri di seberang jalan sambil membawa sebuket bunga yang penuh warna. Seperti dulu, senyumnya sangat indah.
Farhan bangkit lalu berjalan keluar. Dilihatnya baik-baik sosok Mayla, memastikan bahwa itu nyata. Mayla melihat ke kanan dan ke kiri untuk menyeberang.
“Farhan!” teriak Mayla saat dia melihat Farhan berdiri di depan pintu.
Farhan terbelalak. Ini nyata.
“Mayla?” Farhan berlari hingga ke bibir jalan. Dia hendak menyeberang, tapi kendaraan sangat banyak. Beda  halnya dengan Mayla. Saat dia telah melihat Farhan, dia langsung begitu saja berlari menyeberangi jalan tanpa memperhatikan kendaraan yang melaju lagi.
“MAYLA!” teriak Farhan sambil berlari menghampiri Mayla saat melihat mobil yang melaju kencang kearahnya.
BRUKK…
Tabrakan terjadi. Tubuh Mayla yang berada di dekapan Farhan terlempar. Mereka terjatuh menghantm aspal dengan sangat keras. Walau demikian, mereka masih sadarkan diri.
“Aku melihatmu semalam,” ucap Mayla dalam batinnya. Wajah dan tubuhnya telah penuh dengan darah. Farhan juga demikian.
“Aku mencarimu semalam.” Batin Farhan juga ikut berbicara. Tangannya tetap mendekap Mayla.
“Maaf, aku pergi mencari bunga. Tapi saat aku kembali, kamu sudah tidak di sana.”
“Aku sudah melihat ujung benang merahku.”
“Aku juga sudah melihat ujung benang merahku.”
“Kamulah orangnya.”
Seperti bertelepati, mereka berbicara menggunakan pikiran.
Mereka saling menyatukan jari kelingking mereka. Senyum bahagia menghiasai wajah mereka yang penuh dengan darah. Sesaat kemudian mereka menghembuskan nafas terakhir.
Waktu bisa memutarkan segalanya, tapi takdir tetap akan mempertemukan kitaKamu di sini hanya untukku. Aku di sini karena kamu. This is our destiny.


♫ SELESAI ♫

No comments:

Post a Comment