Friday, September 6, 2019

Keganjilan KKN Horor Desa Penari



Selama beberapa hari, tiap buka FB pasti selalu muncul status tentang KKN Horor. Terutama di grup KBM. Awalnya aku abaikan saja, tapi makin lama makin penasaran. Kenapa cerita itu bisa sampe viral sekali. Pengen baca, tapi takut.  Apalagi aku selalu buka FB pas malam. Nemu link cerita itu juga pas malam.  Kan sy tidurnya sendiri (anak kost). Nanti saya malah tidak bisa tidur, gimana? Jadi udahlah, abaikan saja.

Tapi semalam, berhubung ada sobat yg datang ke kost untuk nonton film horor padahal sy tdk punya film horor. Jadilah kutawarkan cerita viral yg katanya kisah nyata.

Kucari link nya. Lalu kami membaca bersama.

Agak kaget sih pas baca lokasinya itu ada di Jawa Timur. Itu kan tanah kelahiranku. Agak kaget juga pas diceritakan kalau mau ke desa itu harus melewati hutan. Dan tidak ada satu desa pun yang dilewati. Benar-benar hutan yang penuh kemistisan.

Lokasi rumah nenekku kurang lebih seperti itu. Apalagi ada adegan yang menceritakan kalau Widya diolesi kunir/kunyit dijidatnya saat menemui Mbah Buyut. Saya jadi ingat waktu kecil, kedua telingaku bagian bawah pernah diolesi kunir kalau ada orang meninggal yang lewat. Bahkan sampai jadi kebiasaanku waktu kecil. Karena aku memang jereh (penakut), jadi tanpa disuruh, kalau ada orang meningal lewat depan rumah, pasti aku langsung cari kunir, dan aku oles ke telingaku sendiri. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa fungsinya, tapi pas sudah agak besar, aku sudah tidak pernah begitu lagi.

Tapi saya yakin kalau lokasi yg dimaksud bukan desa kelahiranku itu, karna mobil bisa masuk sampai di rumah. Sedangkan di cerita horor itu, kita harus naik motor untuk sampai di desa, karena mobil tidak bisa masuk.

Cara penulis menuliskan cerita mampu membuat aku dan sobatku merinding sekaligus bertanya-tanya, karena cerita pertama disampaikan berdasarkan sudut pandang Widya. Akhirnya pertanyaan itu sedikit terjawab di sudut pandang Nur.

Karena cuma dua tokoh yang menceritakan sudut pandangnya, masih ada pertanyaan yang mengganjal.

Kenapa Widya yang diincar? Kenapa bukan Nur atau Ayu?

Okey, kalau Nur sudah terjawab, karena dia punya pelindung. Lalu, Ayu? Bukannya yang datang pertama observasi adalah Ayu dan Nur?

"Kan diceritakan kalau para penari itu gadis perawan. Nur diincar tapi ada pelindungnya. Jadi beralih ke Widya, tapi kedua benda yang seharusnya ada di Widya, malah hanya satu. Sedangkan satunya disimpan Ayu. Sedangkan Ayu, kan, sudah tidak .... Yah, itulah," terangku sok mengetahui banget cerita saat temanku bertanya.

"Berarti Ayu sudah tidak p****** lagi sebelum dia masuk ke desa itu?"

"Entah." Aku mengangkat bahu. Kali ini aku tidak mau sok tahu soal itu.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa Pak Prabu perbolehkan KKN di situ padahal dia tahu desanya seperti itu? Masa' cuma gara-gara Ayu nangis, langsung diterima?

"Kan awalnya dia sudah nolak, tapi karna dia akrab sama masnya Ayu, jadi dia ngerasa tidak enak. Apalagi masnya Ayu juga sudah memohon sekali," jawabku yang masih ingat cerita awal Ayu, Nur, dan Mas Ilham datang meminta izin ke Pak Prabu.

Pertanyaan yang bukan pertanyaan terakhir, kenapa Ayu pilih desa itu? Kenapa kayak dia ngotot sekali pengen di situ. Ataukah dari awal, Ayu sudah dijadikan jalan? Tapi kenapa? Bagaimana?

Kalau pertanyaan ini, aku baru kepikiran jawabannya esok paginya. Mungkin Ayu tahu desa itu dari masnya. Berhubung desa itu bagus sekali pemandangannya, jadilah dia mau sekali KKN di situ. Itu spekulasi pertama. Spekulasi kedua, karena Ayu tahu tempat apa itu, dan dia suka dengan Bima. Makanya, dia mau memanfaatkan tempat mistis itu untuk menggaet Bima. Kan pertamanya Ayu yang maksa Nur untuk ajak Bima dan kating yang aku lupa namanya.

Pertanyaan selanjutnya lagi, bukannya Bima anak pesantren? Kok imannya lemah banget sih.

Begini, tidak semua anak pesantren adalah anak yang super soleh dan solehah. Mereka juga manusia biasa yang bisa khilaf dan dosa. Begitu pula dengan anak rock n roll. Pasti banyak yang berpikir negatif terhadap anak rock n roll, tapi nyatanya kan tidak semua seperti itu.
Jadi aku sempat mikir. Bisa jadi pas Ayu cerita ke Nur (atau Widya yah itu? Lupa). Pokoknya dia cerita ke salah satu teman perempuannya kalau dia mengikuti Bima ke tempat yang sudah dilarang karena Bima melihat perempuan cantik. Mungkin saja, Bima mau mengajak perempuan itu kembali, karena kan tempat itu dilarang. Lalu, mungkin juga pas sampai di tempat terlarang itu, pandangan matanya digoda setan dan akhirnya berbuat "itu" ke Ayu. Kan katanya, lelaki normal kalau disuguhkan "ikan goreng" ya bakal disantap lah. Atau malah sebenarnya Ayu yang menggoda Bima. Entahlah. Hanya Allah yang tahu.

Lalu, kenapa Bima sampai mau mengguna-guna Widya? Hmm... Mungkin niat awalnya Bima bukan seperti itu. Apalagi pas dia bilang ke Nur kalau perempuan cantik yang dia temui adalah manusia, padahal Nur yakin kalau perempuan cantik itu bukan manusia. Ataukah mungkin karena Bima sudah terlanjur melakukan perbuatan terlarang, dan dia tahu kalau dirinya sudah dikutuk, ya sekalian saja dia bersekutu dari Allah untuk memikat Widya.

Selanjutnya, bisa ya pilih desanya sendiri kalau KKN? Aku baru tahu. Soalnya di kampusku, tempatnya ditentukan. Tapi kalau kita tidak mau di situ, bisa pindah ke desa lain yang memang desanya sudah ditentukan sama kampus.

Terkahir, itu beneran kisah nyata? Kalau memang kisah nyata, kenapa berita tentang anak KKN itu tidak terdengar? Paling tidak, ada berita seperti "KKN dibatalkan karena tempatnya terlalu mistis" atau "Anak KKN pulang dalam keadaan kurang baik". Atau paling tidak, sekarang sudah ada warga atau kenalan anak KKN itu yang sudah berkoar di sosmed. Entah cuma mau bilang "itu kisah nyata" atau "aku kenal sama anak salah satu anak kkn itu" atau "aku tau cerita itu", seperti kisah horor Bus Hantu yang sempat viral itu. Tapi yah, mungkin karna aku kurang update, dan beberapa hari ini suka menghindari kisah KKN horor ini. Takut terbayang, apalagi ada kisah horor juga pas aku KKN dulu. Intinya, cuma gak mau mengingat lagi horor di tempat KKN ku. Tapi sekarang malah baca sampai habis, sampai dua sudut pandang, lagi 

No comments:

Post a Comment