Friday, July 3, 2015

Sinopsis We Broke Up episode 2



Episode 2 “Putus 101”
Won Yeong : Cinta adalah keajaiban, seperti hanya ada satu orang di alam semesta ini.
Woo Ri :Tapi bahkan setelah keajaiban seperti itu, kita tergoda. Dan menyadari pada akhirnya.
Won Yeong : Saat berdua, seperti mengisi seluruh alam semesta.
Woo Ri : Tapi kemudian hilang begitu cepat, dan membenci satu sama lain.



Di kos Kot Dong.
“Argh, Woo Ri, kau melakukanya sengaja kan?” pekik Won Yeong tergeletak di lantai. “Aku sudah bilang berkali-kali, jangan tinggalkan makanan anjing di sekitar sini!” omel Won Yeong menahan sakit di pinggangnya.
Woo Ri menghampiri Won Yeong dengan santai. Dia membalas omelan Won Yeong dengan mengatakan bahwa Won Yeong yang tidak hati-hati kenapa harus dia yang disalahkan. Woo Ri marah karena Won Yeong hanya memanggil namanya saja, padahal dia 3 tahun lebih tua darinya. Dia menyuruh Won Yeong jangan pernah memanggil namanya lagi.
“Oh, belakangku sakit,” keluh Won Yeong memegangi belakangnya.

“Oh, benarkah? Apa kau merasa seperti ingin pindah sekarang?”


“Mengapa harus aku?” bentak Won Yeong. Lalu dia berusaha berdiri, namun tidak bisa kerena pinggangnya terasa sakit. Woo Ri malah menambahi rasa sakit Won Yeong dengan menendang-nendangnya. Itu dilakukan supaya dia pindah.


Dua teman se-band Won Yeong dan Kot Dong yang dari tadi melihat perkelahian mereka meringis melihat Won Yeong ditendangi. Kot Dong malah ditutupi matanya oleh mereka. Seolah dia anak kecil yang tidak boleh melihat kekerasan.

Untuk membalas kelakuan Woo Ri pada Won Yeong, dua teman Won Yeong sengaja membuat keributan di depan kamar Woo Ri. Mereka memainkan music dengan ribut.

Sementara itu, Woo Ri sedang melihat pengumuman Enderle Young, dan dia gagal. Woo Ri tidak tahu harus merasa sedih atau kesal. Orang-orang di luar sangat berisik dan mengganggu.

Lalu ada pesan masuk ke ponselnya, pesan tagihan yang menunggak. Bukan hanya satu, namun lumayan banyak, tunggakan ini dan itu.


“Aku tak sanggup!” kesal Woo Ri yang kemudian menghampiri dua teman Won Yeong yang membuat keributan di depan kamarnya.
“DIAAM!” bentaknya. “Kalian berdua ingin mengakhiri hidup kalian hari ini?” tanya Woo Ri. Kemudian dia menyetrum si drummer menggunakan raket nyamuk.


“Kau sendiri yang bilang kami band yang bagus,” ujar Won Yeong keluar dari kamar mandi.
Woo Ri menoleh, lalu segera menutup matanya dengan kedua tangannya karena Won Yeong bertelanjang dada, dan hanya mengenakan sebuah handuk.

“Apa itu reaksi yang kau inginkan?” tanya Woo Ri menatap Won Yeong dengan tajam. Dia mengatakan Won Yeong punya begitu banyak kepercayaan. Namun ia tidak mengerti bagian mananya.
“Apa? Begitu banyak?” tanya Won Yeong yang merasa disindir.

“Lalu kenapa kau tidak tunjukkan ‘itu’?” Woo Ri berusaha menarik handuk Won Yeong untuk melepasnya. Namun, Won Yeong menahannya. *Hihihi...Woo Ri malah mau melihat semua
“Oke, itu saja. Percobaan yang bagus tapi berhenti main-main. Ini bukan studiomu. Aku tidak punya ruang untuk pecundang sepertimu,” omel Woo Ri.
“Apa? Pecundang?”

“STOP! Berhenti di sana!” teriak Bae Jeong Nam, penghuni kamar kos lain. “Kalian berdua benar-benar kelewatan. Aku sudah berusaha menjadi sangat toleran untuk diri sendiri. Tapi kalian benar-benar lupa ini adalah rumah kos? Beli apartemen sendiri jika kalian tidak ingin mengikuti aturan. Aku juga punya kehidupan di sini.”

“Pak, mari aku jelaskan semuanya,” kata si drummer yang kejang-kejang karena efek kesetrum. Jeong Nam saja sampai heran melihatnya.

Kemudian, beberapa orang dari kamar kos atas turun dan mengajak Jeong Nam untuk kembali ke kamarnya saja.

Sebelum pergi, Jeon Nam menyampaikan agar mereka lebih baik berhenti membuat keributan sebelum dia menelopon polisi.
Won Yeong dan Woo Ri mengangguk mengerti.

“Aku mengerti situasi kalian,” kata si drummer setelah semua orang-orang dari kos atas kembali ke atas. “tapi jika kalian terus begini, maka kalian harus berada di luar.”
Woo Ri mengatakan dia tidak salah. Tapi, Won Yeong malah mengatakan seharusnya siapa yang bilang begitu.
Si drummer jadi pusing. Kemudian dia berkata mereka hanya punya satu cara. Dia berkata pada Woo Ri bahwa jangan percaya pria. Mereka perlu kesepakatan jika dia ingin.
“Argh!” teriak si drummer karena tiba-tiba temannya menyetrumnya dengan raket nyamuk dari belakang.


Mereka akhirnya membuat aturan, diantaranya:
Menjaga kebersihan area umum, berpakaian di wiliyah umum, menghormati privasi, jangan menyentuh makanan, tidak ada kekerasan, tidak ada music di rumah.

Aturan yang terakhir dari Woo Ri membuat Won Yeong tidak senang. Kemudian Won Yeong menambahkan lagi. “Tidak mengganggu kencan satu sama lain.”
“Apa?”
“Sekarang kita sudah putus. Kita tidak punya hak untuk mencampuri urusan masin-masing,” terang Won Yeong. “Kenapa? Ada masalah? Ini baik untuk kita berdua.”
“Aku pikir, kau masih belum mengerti. Aku tidak punya persaan yang tersisa untukmu untuk keberatan hubungan percintaanmu. Aku tidak tertarik kau berkencan atau menikah dengan seseorang. Tapi aku setuju denganmu dalam aturan ini. Setuju! Benar-benar setuju!”
Jika ada yang melanggar aturan ini, dia tidak punya pilihan lain selain mengangkat kaki dari sini.


Akhirnya kesepakatan disetujui.


Won Yeong pergi ke studio tempatnya berlatih, namun di depan studio tertulis “Terlambat bayar sewa 6 bulan. Band ‘Aku Tidak Tahu’ tidak diperbolehkan untuk menggunakan studio”.


Untuk mendapatkan uang, Won Yeong menelpon ibunya dengan tujuan untuk meminjam uang. Ibunya mengatakan, tentu saja dia punya uang jika menjual ayam dan babi yang baru lahir dari pertanian dan juga Ba-duk (nama anjing mereka). Jika tidak cukup, ibunya bisa mencari pekerjaan sampingan di pasar juga.

Won Yeong tidak jadi meminjam uang karena ibunya terdengar menyindirnya.
Setelah dia mematikan panggilan, tak sengaja dia melihat mini market yang di jendelanya tertempel kertas yang bertuliskan “Pekerjaan Paruh Waktu”. Dia pun masuk ke dalam mini market.

Saat dia masuk, dia dikagetkan dengan kemunculan seorang pekerja yang tiba-tiba. Dia bertanya pada Won Yeong apakah dia ke sini untuk pekerjaan paruh waktu.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Won Yeong heran.

“Seperti yang dilakukan pekerja paruh waktu, kau tahu apa yang harus dilakukan. Aku akan memberitahu pemilik toko,” ucap penjaga toko itu seraya melepaskan rompi kerja yang ia kenakan lalu ia berikan pada Won Yeong. Dia menyerahkan semuanya pada Won Yeong, kemudian pergi. Won Yeong jadi bingung dengan sikap orang itu, tapi ini kesempatannya untuk mendapat pekerjaan.


Beberapa saat kemudian dia mengepel,

mengecek dan menyusun barang-barang di mini market,


menjadi kasir yang ramah untuk pelanggan, serta menangani pengunjung yang mabuk. Semuanya ia lakukan hingga malam, sehingga ia merasa lelah.


Saat pria mabuk itu tertidur, dan tak ada pengunjung lain yang datang, dia meluangkan waktu dengan melihat foto-foto kebersamaannya dengan Woo Ri.

Tak lama kemudian seorang pengunjung perempuan yang berpakaian rok sangat mini masuk. Dia marah-marah dengan seseorang yang ia telpon.
Won Yeong hanya memperhatikannya. Entah Won Yeong tahu atau tidak (sepertinya tidak), pengunjung itu adalah perempuan yang ia temui di depan toko alat music, Ni Na.
Saat Ni Na menoleh ke arah Won Yeong, dengan cepat Won Yeong memalingkan wajahnya.


Setelah mengambil sebotol minuman, Ni Na menghampiri Won Yeong di kasir. Dia bertanya berapa harganya, lalu Won Yeong memberitahu. Ni Na memberikan kartu kreditnya.
Setelah menggesek kartu kredit Ni Na, Won Yeong menghampiri pria yang mabuk tadi sambil mengomel karena sepertinya pria mabuk itu hendak muntah. Tidak mungkin Won Yeong membiarkan pria itu muntah sembarangan.

Setelah menangani pria mabuk itu, Won Yeong kembali ke kasir, dan mengambil ponselnya. Namun, ternyata ponselnya tertukar dengan ponsel Ni Na.

Sementara itu, Woo Ri sedang latihan meninju di depan kertas bertuliskan peraturan yang ia buat dengan Won Yeong. Dia nampak kesal. Dia mengomel-ngomel, pasti Won Yeong sudah punya pacar. Dia lalu meminta pendapat Kot Dong apa semua pria seperti itu. Kemudian dia berbaring di samping Kot Dong, dan memeluknya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk sadar. Mereka sudah putus, jadi untuk apa dipikirkan. Nampaknya sekarang Woo Ri sedih.


Di pinggir jalan, Ni Na merentangkan tangan kanannya untuk menghentikan kendaraan umum. Namun, tak ada satu kendaraan pun yang berhenti. Ni Na yang sedang ada masalah di tempat kerjanya, sepertinya sekarang dia lelah dan pasrah menanti kendaraan. Dia bahkan tak menyadai kalau dia salah mengambil ponsel.


No comments:

Post a Comment