Saturday, July 18, 2015

Sinopsis We Broke Up episode 6

Episode 6 “Tidak Berdetak, Tidak Sesuai”


Won Yeong nampak ragu. Apakah dia harus mengirim pesan “Aku menyukaimu” pada Woo Ri atau malah meminum alcohol.



“Hei, jika kau tidak bisa, minum saja lalu kita lanjutkan pestanya,” celetuk si drummer karena Won Yeong sangat lama memilih. Kemudian dia mengambil seceret besar alcohol.
“Sekarang sudah larut. Mari kita berhenti,” kata Ni Na sambil mengambil ceret dari si drummer kemudian meminumnya hingga habis, tanpa tersisa setetes pun. Hal itu membuat semuanya terkejut. Usai minum, Ni Na mengatakan dia tidak ingin penyanyinya sakit.


Di luar, Ni Na muntah-muntah setelah minum alcohol sebanyak itu.

Woo Ri memperhatikannya sejenak dari tangga, kemudian dia menghampiri sambil memberikan sebotol obat mabuk. Ni Na berterimakasih lalu meminumnya.


“Won Yeong, maksudku Band Aku Tidak Tahu, apa yang kau suka dari mereka?” tanya Woo Ri.
“Hmm… Bisa dibilang pada pandangan pertama,” jawab Ni Na.
“Ya?”
“Kau mungkin tidak mengerti. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dari Won Yeong. Dan itu tugasku membantu Won Yeong bersinar cerah.” Kemudian dia muntah-muntah lagi.


Rembulan yang hanya separu nampak di langit malam itu. Woo Ri mengantarkan Hyun Woo pulang. Dia mengomel karena Hyun Woo tidak mau naik taksi. Woo Ri jadi direpotkan karena harus membopongnya pulang. Dia menasihati Hyun Woo agar lain kali tidak usah menuruti mereka, karena Hyun Woo tidak kuat minum. Dia bahkan menyuruh Hyun Woo untuk jauh-jauh dari mereka.


Hyun Woo menyuruh Woo Ri berdiri di depannya karena dia ingin mengatakan sesuatu.
“Aku menyukaimu lebih dari yang kau pikirkan,” ungkap Hyun Woo.
Ungkapan jujur itu malah dianggap Woo Ri akibat dari mabuk.
“Aku tidak mabuk. Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama. Aku sungguh-sungguh.”

Sementara itu, Won Yeong membopong Ni Na ke mobil. Ni Na yang mabuk meminta untuk minum sekali lagi. Namun Won Yeong mengatakan sudah cukup. Kemudian seseorang yang merupakan supir pengganti datang. Dia langsung masuk ke dalam mobil.
“Kau yang bertanggung jawab karena membuatku mabuk seperti ini,” tuntut Ni Na.
“Apa aku yang menyuruhmu? Kau mabuk atas kemauanmu sendiri,” bela Won Yeong. Kemudian dia menyuruh Ni Na pulang. Tapi Ni Na meminta satu kali lagi. Won Yeong mengatakan lain kali saja. Kemudian dia membopong Ni Na ke mobil.

Woo Ri berjalan pulang setelah mengantar Hyun Woo pulang. Dia memikirkan pengungkapan perasaan Hyun Woo. Tiba-tiba dia berhenti berjalan saat mendengar suara Ni Na.


“Won Yeong, sekali saja,” pinta Ni Na lagi yang tak mau masuk mobil.
“Tidak, masuklah ke mobil,” suruh Won Yeong lagi. Namun, tiba-tiba Ni Na memeluknya.
“Apa kau yakin tidak mau minum sekali lagi?” tanya Ni Na terdengar masih memohon.
“Apa?”
“Aku benar-benar tidak pernah seperti ini,” ujar Ni Na.
“Lain kali. Lain kali saja kita akan minum lagi,” ucap Won Yeong langsung melepaskan pelukan Ni Na karena dia melihat Woo Ri.


Kemudian Won Yeong menyuruh Ni Na masuk ke dalam mobil.

Entah harus mengartikan apa tatapan Woo Ri. Sepertinya ia kesal dan cemburu. Sedangkan Won Yeong, sepertinya dia merasa bersalah pada Woo Ri.


“Apa kau akan berhubungan dengan Hyun Woo?” tanya Ji Min saat Woo Ri menemuinya.
“Hubungan apa? kami bari saja putus,” elak Woo Ri. “Aku hanya bilang aku akan memikirkannya lagi.”
“Omo! Memikirkan apa?” protes Ji Min. Itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Dia menyuruh agar Woo Ri sadar.
“Lalu apa yang harus ku lakukan?” tanya Woo Ri.

“Yah… Aku lihat kau masih kompeten. Tidak ada waktu kosong untukmu.” Ji Min merasa kasihan pada Won Yeong. Dia berpikir Won Yeong akan menangis karena masih ada perasaan pada Woo Ri. Namun, rasa harunya itu terganggu oleh dua juniornya yang menari-nari di belakang (junior yang sama dengan junior di episode 1. Pakaiannya pun sama. Pakaian tradisional Korea). Dia pun membentaknya.


“Kasihan apanya?” kesal Woo Ri. Dia mengatakan bahwa Won Yeong sudah punya seseorang di sampingya.
“Daebak. Siapa itu?” tanya Ji Min yang kecewa karena Won Yeong tidak seperti yang dia pikirkan.


“Aku tahu sekarang, dia pernah ada di Tv,” ucap Ji Min sambil melihat profil Ni Na di internet. Dua Junior itu juga ikut melihatnya. “Aku ingat dia seorang director music berbakat.”
“Berbakat? Itu karena dilihat dari penampilannya saja,” ejek Woo Ri.
“Daebak. Dia seusia dengan kita,” ujar Ji Min membaca profil Ni Na “Kau sudah kalah, Woo Ri yang luar biasa.” Kemudian dia lanjut membaca profil Ni Na. “Dia belajar di luar negeri dan tingginya seperti model, kelas A.” kemudian dia mengatakan Woo Ri kelas D. “Tidak boleh terjadi. Kau harus segera dengan Hyun Woo. Tidak ada cara lain untuk memenangkan permainan ini,” saran Ji Min.
“Untuk apa?” Kemudian dia memikirkan besok pasti dia akan merasa canggung bertemu dengan Hyun Woo.


Ji Min mengatakan jika Woo Ri tidak mau dengan Hyun Woo maka dia yang akan mengambilnya.
“Dia tidak akan mau diambil olehmu,” celetuk junior laki-laki.
“Lihat dirimu. Seperti sudah menunggu lama untuk bilang itu,” ucap Ji Min seraya tertawa, kemudian dia mengambil tongkat dan memukulnya.


Keesokan harinya, di kantor Woo Ri selalu merasa canggung saat bertemu dengan Hyun Woo. Makanya dia selalu menghindari Hyun Woo.


Tidak mau dihindari lagi oleh Woo Ri, Hyun Woo menghampiri Woo Ri di meja kerjanya dengan memakai kostum box yang pernah ia pakai saat wawancara. “Woo Ri kau pasti bisa”, Itu yang tertulis di box itu.

Hyun Woo memencet gambar minuman di box, kemudian dia memberikan minuman sungguhan pada Woo Ri.


Woo Ri tersenyum, lalu mengambil minuman itu.


Sementara itu, Band Aku Tidak Tahu berada di studio. Ni Na mempunyai kabar gembira untuk mereka.
“Kalian tahu Sang-am Wildcat, kan?” tanya Ni Na sebelum memberikan kabar gembira.
“Maksudnya Sang-am Wildcat itu…” ucap si drummer yang langsung di suruh berhenti oleh Ni Na. Entah karna dia mengerti mereka sudah tahu, atau karna tidak mau mendengar ucapan si drummer.

“Dia akan memberikan lagu untuk Band Aku Tidak Tahu,” ucap Ni Na. Namun, kabar yang menurut Ni Na itu gembira tidak membuat Won Yeong gembira. Won Yeong malah kesal. Dia mengatakan kalau kontraknya adalah mereka yang menulis lagu. Won Yeong tidak mau menerima lagu dari orang lain.
Ni Na menyuruh Won Yeong untuk mendengarnya dulu, namun Won Yeong tidak mau. Dia pun langsung pergi dengan membawa gitarnya.


Woo Ri dan Hyun Woo berbicara di depan kantor.
“Aku tidak akan sangat berlebihan padamu, maaf. Aku sungguh tidak ingin membuat orang lain nyaman,” ujar Hyun Woo.
“Aku mengerti. Sekarang lepas dulu box itu,” suruh Woo Ri.
Hyun Woo tertawa lalu melepasnya.


Woo Ri mengatakan dia tidak bermaksud menghindari Hyun Woo. “Jadi jangan salah paham.” Woo Ri juga mengucapkan terimkasih.
“Aku mengerti. Aku sangat terburu-buru.”
“Tidak. Itu karena aku tidak bisa… Tidak bisa mengatakan boo untuk seekor angsa,” sahut Woo Ri sambil mendekap tubuhnya.
Hyun Woo tertawa, namun ditahan.
“Mengapa kau tertawa?” tanya Woo Ri.
“Oh, tidak,” jawab Hyun Woo langsung berhenti tertawa.


Woo Ri menyuruh Hyun Woo mengatakan yang sejujurnya. Bagian mana yang membuat Hyun Woo tertawa.
“Baiklah. Haruskan kita masuk sekarang?” ajak Hyun Woo. Woo Ri setuju. Namun, baru saja mereka berdiri, mereka mendengar seseorang berteriak memanggil Won Yeong. Mereka pun berbalik.



Ternyata itu Ni Na dan Won Yeong.

“Bagaimana bisa kau pergi di tengah-tengah pembicaraan?” kesal Ni Na.

Won Yeong mengatakan Ni Na lah yang melanggar perjanjian. “Ku pikir kau menyukai track lain.”
“Karena ini debut kalian. Mungkin tidak baik, tapi ada baiknya mencari aman,” terang Ni Na.
“Apa gunanya aku melakukan yang terbaik di sini? Berapa banyak lagi yang kau inginkan dariku?”
“Maksudkan bukan kau tidak boleh membuatnya. Ini mungkin tidak dapat perhatian. Penyanyi yang menghilang karena tidak merubah konsep panggung, apa kau tahu berapa banyak? Jangan sok keren, tapi…”
“Keren?”
“Ya, keren. Sekarang bukan saatnya menjadi seorang artis.”


Won Yeong mengatakan dia tidak punya keinginan untuk kembali lagi ke sana. Kemudian dia berbalik untuk pergi. Namun, dia berhenti sejenak karena melihat Woo Ri dan Hyun Woo sedang memperhatikannya.

Hyun Woo mengantarkan Woo Ri pulang.
“Apa karena tadi kau melihat Won Yeong?” tanya Hyun Woo karena wajah Woo Ri terlihat murung.
Woo Ri mengatakan tidak.
“Kenapa dia ada disemua tempat?” gumam Hyun Woo.
“Apa?”
“Tidak. Woo Ri, jangan hiraukan aku. Bekerjalah sesuai maumu. Kita bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, kau pun tahu.”
“Baik,” jawab Woo Ri.

Hyun Woo mengatakan dia ingin mendukung Woo Ri, bukan membuatnya merasa tidak nyaman.
“Iya, aku tahu.” Kemudian Woo Ri sedikit tersentak saat tangannya tak sengaja menyentuh tangan Hyun Woo. Dia mengingat kenangan bersama Won Yeong.


Dalam kengangan itu, Woo Ri mengatakan bahwa tangan Won Yeong kering. Woo Ri marah karena Won Yeong tidak menggunakan pelembab tangan. Namun, Won Yeong mengatakan kalau itu percuma.


“Kau tidak suka tanganku?” tanya Won Yoeng.
“Kata siapa? Tanganmu adalah bagian yang paling bagus yang kau punya,” jawab Woo Ri.
“Ini nasib gitaris. Tanganku sudah kecanduan.” Kemudian dia mengeletik Woo Ri.

“Kita sudah sampai,” ucap Hyun Woo membuyarkan lamunan Woo Ri. Dia menyuruh Woo Ri masuk.

Woo Ri menganggung, lalu berbalik, namun dia kembali menatap Hyun Woo.

“Hyun Woo, kau tidak perlu mengantarku pulang setiap malam. Aku merasa tidak nyaman.”
Kalimat itu membuat raut wajah Hyun Woo yang semula tersenyum langsung berubah.
Woo Ri tersenyum. Dia mengatakan lain dia yang akan mengantarkan Hyun Woo.


Lalu Woo Ri menggengam tangan Hyun Woo.

Woo Ri : Seperti ini. Aku terbiasa memegang tangan yang lain.

No comments:

Post a Comment