Friday, July 3, 2015

Sinopsis We Broke Up episode 1



Episode pertama ini diawali saat Woo Ri dan Won Yeong beerjalan bersama lalu mereka bernyanyi bersama. Namun saat mereka bernyanyi bersama, Woo Ri berhenti berjalan sementara Won Yeong terus berjalan. Won Yeong baru menyadari kalau Woo Ri tak di sampingnya saat usai bernyanyi.

“Kita putus,” ucap mereka berdua.


Episode 1 “Kita Putus”
[3 tahun yang lalu]
Woo Ri : Ini musim semi. Aku selalu merasa terganggu dan gelisah selama musim semi. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa orang-orang sangat suka musim semi.
“Hei, Woo Ri, kau masih belum bangun?” tegur Ji Min, sahabat Woo Ri membukan pintu sehingga membuat Woo Ri yang tidur di sofa merasa kesilauan.

“Owh, apa ada sampah terbuka atau apa?” keluh Ji Min mencium bau tidak enak. “Hei, bangun, kau akan ketinggalan kelasmu.” Ji Min memumukul-mukul Woo Ri agar bangun, tapi Woo Ri berdesis tidak mau bangun. Dia bahkan mengatakan jangan mengganggunya.


“Ayolah, bangun. Oh, kau bau,” keluh Ji Min yang hendak pergi karena Woo Ri bau, tapi dia harus membangunkan Woo Ri. “Jangan membuatku kesal, dan bangun sekarang.”
Woo Ri terjatuh ke lantai karena Ji Min menariknya turun.

“Kau tidak punya belas kasihan padaku. Sangat kejam,” ucap Woo Ri yang sudah bangun, namun tidak dengan kesadaran penuh. Dia malah kembali ke tempatnya semula untuk tidur lagi.

“Ngomong itu lagi? Kau tunggu, aku ada telepon.” Ji Min mengambil ponsel di tas gendongnya. “Halo, aku di China.” Kemudian dia menggunakan bahasa China, dan dilanjutkan dengan bahasa Korea lagi.
“Pesta semester baru? Aku tidak ikut. Aku ini seorang senior sekarang,” tolak Ji Min.

"Pesta?” pekik Woo Ri yang langsung bangun, kesadarannya langsung pulih.

Sementara itu, Ji Min masih bersikeras menolak undangan pesta. Saat Ji Min menutup panggilan, dia berbalik ke sofa, namun Woo Ri sudah tidak ada.

“Temanku, bawa aku ke sana. Aku sudah siap,” ucap Woo Ri berdiri di depan pintu. Dia mengucapkannya dengan penuh keyakinan.

Woo Ri akhirnya pergi ke pesta bersama Ji Min dengan masih mengenakan pakaian tadi. Di pesta, Woo Ri terus saja makan. Sehingga membuat Ji Min merasa malu. Dia menyuruh Woo Ri untuk berhenti makan karena dia ingin tidak terlihat.
“Kalau begitu, kau bisa pergi sekarang,” ucap Woo Ri dengan enteng.

“Siapa yang kau cari?” tanya Woo Ri yang melihat Ji Min celinga-celingu seperti mencari seseorang.
“Mencari wajah baru yang lumayan,” jawab Ji Min. Kemudian dia menyuruh jangan bicara padanya karena dia perlu fokus.

“Kau tidak punya hati nurani? Mereka masih kecil,” ucap Woo Ri mengingatkan kalau mereka sedang berada di pesta penyambutan mahasiswa baru. Jadi, tentu saja orang-orang di pesta rata-rata lebih muda dari mereka berdua.

“Apa ada dari mahasiswa baru yang bisa menyanyi? Jangan perempuan, tapi laki-laki!” teriak Ji Min.

Semuanya langsung menoleh ke arahnya. Kemudian, dia malah menunjuk Woo Ri, seolah mengatakan kalau itu bukan keinginannya, melainkan keinginan temannya.


“Astaga, aku tidak bilang begitu,” gumam Woo Ri kesal dan malu yang membuatnya semakin banyak makan.

Seorang pemuda bernama Ji Won Yeong merasa dirinya dipanggil karena dia laki-laki yang bisa bernyanyi. Lalu, dia mengajak teman-teman se-band-nya untuk naik ke panggung.

“Kami adalah band ‘Aku Tidak Tahu’!” seru Won Yeong setelah memetik gitar listriknya sekali.
“Nama apa itu? Band ‘Aku Tidak Tahu’?” ejek Woo Ri.
“Untuk semua senior dan teman-teman sekalian. Go!” Musikpun dimulai.
Melihat pemain drum yang berkumis dan berambut panjang, dia merasa jijik. Kemudian dia mengajak Woo Ri untuk pergi saja. Tapi nampaknya Woo Ri terpesona dengan music yang dimainkan, sehingga tanpa sadar dia berjalan mendekati panggung. Dia menatap sang penyanyi dengan wajah berseri.


Woo Ri : Musim semi akhirnya datang padaku.

“Apa?! 3 tahun lebih muda darimu?” pekik Ji Min.
Sekarang Woo Ri dan Won Yeong telah berpacaran. Woo Ri 3 tahun lebih tua dari Won Yeong. Walaupun demikian hubungan mereka sejauh ini baik-baik saja.

Woo Ri : Aku menyukai dia, dan dia menyukaiku. Apa yang perlu dipertimbangkan?

Won Yeong : Mengubah ala ibumu dan bahkan selera music. Apa yang perlu dipertimbangkan?
*sebenarnya masakan Woo Ri tidak enak, tapi Won Yeong tetap memujinya dengan mengatakan masakannya enak.

Woo Ri : Dan impian hidupmu dalam satu hari?
Won Yeong : Satu jam, satu hari. Kami selalu bersama dan melupakan waktu.
Woo Ri : Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu, dan tidak peduli apa yang terjadi, kami ingin bersama selamanya.

Won Yeong : Saling mencintai dalam kebahagiaan. Menjadi teman terbaiknya.

“Ji Ro, maafkan hyung,” ucap Won Yeong seraya mengelus gitar kesayangannya yang beri nama Ji Ro. Nampaknya dia ingin menggadaikan gitarnya. Dia berjanji akan datang kembali untuknya.




Lalu, dia memeluk Ji Ro dan hendak masuk ke dalam toko alat music itu, tapi tiba-tiba dia ditabrak oleh sekelompok orang yang lewat sehingga membuat Ji Ro terjatuh.
“Oh tidak, Ji Ro!” pekik Won Yeong histeris seraya mengambil kembali gitarnya.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya salah satu perempuan dari kelompok itu.

“Oh, itu gitar yang bagus. Apa kau seorang musisi?” tanya Ni Na saat Won Yeong membuka tas gitarnya dan melihat keadaannya.
“Tentu saja,” jawab Won Yeong tanpa menatap lawan bicara.

Kemudian Ni Na dipanggil oleh teman-temannya yang telah berjalan duluan. Mereka menyuruhnya cepat karena sudah terlambat.
“Jika kaut terus menjadi musisi, kita akan bertemu lagi. Maaf,” kata Ni Na sebelum pergi.

Won Yeong menoleh sambil mengomel, “memangnya dia pikir dia siapa?”

Won Yeong akhirnya mendapatkan uang banyak dengan menjual gitarnya.

Di sebuah kos-kosan bernama kos Kot Dong.
“Won Yeung, apa itu?” tanya Woo Ri.
“Tunggu saja,” jawab Won Yeung.
Rupanya mata Woo Ri sedang ditutup. Won Yeong ingin memberikan kejutan untuk Woo Ri.

“Tada!” seru Won Yeong melepas tangannya dari mata Woo Ri.
“No Woo Ri?” ucap Woo Ri membaca papan nama yang tertempel di depan pintu. “Won Yeong, apakah ini kamarku?” tanya Woo Ri antusias.
Won Yeong mengiyakan.


“Aku tidak percaya ini, dari mana kau punya uang?” tanya Woo Ri. Kemudian dia menyadari sesuatu. “Jangan bilang kau menjual gitarmu?”
Won Yeong hanya diam sambil tersenyum. Mau bagaiman lagi, dia tidak mungkin membohonginya, karena itu sudah terlihat jelas.
“Bagaimana kau akan bernyanyi?” tanya Woo Ri.

Won Yeong memegang kedua pundak Woo Ri. “Sekarang kita akan bersama-sama selama 24 jam. My muse, No Woo Ri, aku mencintaimu.” Won Yeong mendekatkan wajahnya ke wajah Woo Ri, nampaknya dia hendak mencium Woo Ri,


namun tiba-tiba pemilik kos datang. Spontan, Won Yeong mendorong Woo Ri hingga terjatuh. Woo Ri segera bangun lagi.

“Oh, ini. Ini adalah tuan Cha, tuan rumah kos ini. Dan ini adalah Kot Dong,” ujar Won Yeong memperkenalkan bapak kos dan anjingnya.
“Halo, perkenalkan aku Woo Ri.”

“Nah, kita bisa merayakan setelah kita mendapatkan beberapa makanan dulu. Mari kita mencari makanan yang panas dan pedas mala mini?” ujar tuan Cha.

Woo Ri dan Won Young : Mulai sekarang, kami akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama.

“Permisi, aku di sini untuk mendapatkan gitar ini lagi,” ucap Woo Ri sambil mengambil gitar milik Won Yeong yang telah dijual. Rupanya Woo Ri hendak menebus gitar itu.
“Iya?” jawab penjaga toko yang tiba-tiba wajahnya menjadi merah.


“Apa pemilik toko tidak di sini hari ini?” tanya Woo Ri.
“Tidak,” jawab Hyung Woo.
“Bagus!” seru Woo Ri. Dia lalu mengangkat gitar itu kehadapan Yeon Woo. “Gitar ini tidak seharusnya berada di sini. Aku sudah bekerja keras, dan sekarang…” Woo Ri mengambil sebuah amplop berisi uang, lalu memberikannya pada Hyung Woo. “Aku tahu ini masih tidak cukup. Tapi tolong, bisakah ini dijual padaku?”
“Tapi ini di luar wewenangku,” kata Hyung Woo dengan sopan.


“Tunggu… kau…” Woo Ri menyadari sesuatu. Ternyata penjaga toko itu adalah teman sekelsanya. “Aku tahu namamu, sungguh. Seo Hyung Soo.”
Dengan cepat, penjaga toko itu menyebutkan namanya yang sesungguhnya. Hyung Woo adalah namanya.
“Ya, Hyung Woo,” kata Woo Ri pura-pura sungguh mengenalnya. “Hyung Woo, bisakah aku beli dengan harga segini? Aku sangat berterimakasih kalau kau bisa bernegosiasi dengan teman sekelasmu.”
Hyung Woo mengatakan dia akan mendapat masalah jika bosnya tahu. Jadi, dia tidak bisa.
“Begitukah? Apa yang bisa aku lakukan?” Woo Ri mencoba melakukan apa yang ia bisa. Dia menunjukkan tariannya di depan Hyung Woo. Tarian yang menurutku tidak bagus.
“Tidak bisa,” kata Hyung Woo yang menghentikan tarian Woo Ri.
“Hyung Soo, maksudku Hyung Woo, aku benar-benar membutuhkan gitar ini,” ucap Woo Ri dengan wajah memelas, seolah gitar itu adalah hidupnya yang tidak bisa dipisahkan darinya.

Pada akhirnya, Woo Ri berhasil membawa pulang Ji Ro dengan uangnya yang hanya sebegitu.


Woo Ri memberikan Ji Ro pada Won Yeong. Won Yeong tentu saja sangat senang. Dia mengira, dia tidak akan bertemu dengan Ji Ro lagi di tahun ini.
Woo Ri menasihati Won Yeong agar tidak menjual barang berharganya lagi demi dirinya.
“Aku akan menulis lagu hanya untukmu, Woo Ri. Aku berjanji,” ujar Won Yeong.
“Sungguh? Kot Dong saksinya kau sudah berjanji.”
“Tentu.”

Kemudian, Won Yeong memainkan gitarnya sambil bernyanyi.

Woo Ri : Kami percaya, cinta kami akan bertahan selamanya.
Won Young : Seperti lagu-lagu yang dicintai dari waktu ke waktu. Tapi…

[3 tahun kemudian]
“Apa?! kalian putus?” pekik Ji Min.
Foto-foto kebersamaan mereka yang terpajang di dinding pun sudah tak ada lagi.
“Kenapa?” tanyanya yang segera duduk di dekat Woo Ri. “Aku tahu kalian akan kembali bersama lagi dalam waktu dekat,” hibur Ji Min.


Namun Woo Ri mengatakan tidak. Kali ini benar-benar berakhir.
“Kenapa? Apa dia mencurangimu? Atau karena uang?” tanya Ji Min. “Bagaimana dengan semua uangmu yang kau habiskan untuk Won Yeong?”
“Aku tidak tahu. Jangan tanya lagi. Yang pasti semuanya sudah berakhir,” kesal Woo Ri.
Tiba-tiba dua orang junior pria dan wanita masuk. Junior-junior itu member salam pada seniornya. Mereka lalu membalas salam tersenyum. Nampaknya Ji Min merasa malu. Dia meminta lain kali bertemu di café, tapi Woo Ri sepertinya lebih suka di tempat itu karena kopinya gratis.
“Jadi, kau akan pindah?” tanya Ji Min kembali ke topic semula.
“Tentu saja. Aku sudah memberitahu pemilik rumah kos.”

Tiba-tiba Woo Ri dihubungi oleh ahjussi makelar. Segera Woo Ri kembali ke kos. Di depan kos, ahjussi makelar duduk di tangga.
“Apa itu berarti bahwa aku tidak bisa pindah?” tanya Woo Ri begitu ia tiba.
“Nah, tuan Cha mendapat pinjaman keamanan untuk rumah ini,” ucap ahjussi makelar.

“Dimana tuan Cha? Aku akan berbicara dengannya,” ucap Won Yeong yang baru datang. Begitu Won Yeong datang, Woo Ri langsung membuang muka.

“Aku dengar dia di suatu tempat, di pulau untuk sesuatu yang mendesak. Dia bahkan tidak mendapat sinyal di sana,” ujar ahjussi makelar.

Woo Ri bertanya di Korea bagian mana yang tidak mendapatkan sinyal. “Jadi, kapan kami mendapatkan uang kami kembali?”
Ahjussi makelar mengatakan mungkin setelah sekitar 6 bulan.
“Lalu aku harus tinggal di sini selama itu? Bersamanya?” tunjuk Won Yeong pada Woo Ri.
“Ya,, aku kira begitu,” jawab ahjussi makelar. “Mengapa tidak kalian tinggal bersama saja? Tidak ada tempat yang lebih murah dan bagus seperti ini di lingkungan ini.”
Won Yeong dan Woo Ri saling bertatapan dengan sinis, lalu sama-sama berkata, “TIDAK MAU!”
Ahjussi makelar sampai terkejut karena dibentak. “Aku mengerti. Tapi, apa hubungan kalian berdua?”
Woo Ri mengatakan tentu saja tidak ada. “Mengapa aku ada hubungannya dengan Douchebag ini?” ejek Woo Ri.
“Oh, lihatlah dirimu begitu gelap dan kusam dengan lingkaran hitammu. Semua tentangmu begitu membosankan,” balas Won Yeong mengejek.
Saat mereka saling mengejek, ahjussi makelar memilih pergi saja.


Woo Ri : Di musim semi ketika semuanya berakhir.
Woo Ri dan Won Yeong : Kita putus.

No comments:

Post a Comment