Monday, July 13, 2015

Sinopsis We Broke Up episode 3


Episode 3 “Hanya Kebetulan Ataukah Takdir?”


Saat Won Yeong melihat foto-foto dirinya bersama Woo Ri, tiba-tiba Cheo Son (penjaga toko yang tadi pergi) datang sambil bernyanyi rap.


Dan itu, terlihat mengerikan bagi Won Yeong.

Namun, itu hanya mimpi. Ya, Cheo Son nge-rap dihadapannya itu hanya mimpi, tetapi Cheo Son benar-benar ada dihadapannya. Won Yeong sampai terkejut melihatnya ada dihadapannya saat ia terbangun.



“Sepertinya kau mimpi buruk,” tebak Cheo Son. “Wajahmu terlihat pucat.”
“Aku baik-baik saja,” jawab Won Yeong. Lalu dia mengangkat telepon. Rupanya, music rap yang masuk ke dalam mimpinya adalah nada dering dari ponsel Ni Na.

“Hallo,”


“Siapa ini?” tanya Ni Na di seberang sana. Dia marah-marah karena ponselnya diambil. *padahal kenyataan yang sesungguhnya adalah sebaliknya.
Dengan menahan emosi karena dituduh mengambil ponselnya, Won Yeong menyuruh Ni Na untuk mengambil ponselnya di toko Aman Yeon Hee.


Mendengar ucapan Won Yeong, Ni Na baru sadar kalau ponselnya tertukar di sana.
Won Yeong menyuruh Ni Na diam dan membawa ponselnya padanya. Tapi Ni Na mengatakan dia sibuk, jadi dia menyuruh Won Yeong yang membawanya padanya.
Won Yeong tambah emosi karena Ni Na lah yang mengambil ponselnya, jadi seharusnya dia yang datang mengembalikannya. Namun, sekali lagi Ni Na mengatakan kalau dia dalam keadaan mendesak. Lalu dia menawarkan bayaran untuk Won Yeong jika dia mau datang.
“Apa kau pikir aku kurirmu atau sejenisnya?” kesal Won Yeong.
“300 dolar?” Ni Na menawarkan.
Segera Won Yeong menanyakan keberadaan Ni Na. Nampaknya dia tergiur dengan uang yang ditawarkan Ni Na.


Pagi itu, di kos Kot Dong, seperti biasa semua penyewa kamar kos pergi ke dapur untuk makan. Mereka terkejut karena telah ada beberapa makanan enak. Mereka berpikir kalau tuan Cha ada di sana, karena itu yang sering tuan Cha lakukan untuk mereka.



Tanpa pikir panjang lagi, mereka menyantap hidangan sarapan pagi itu. Sementara makan, si drummer mengajak Woo Ri berbincang. Dia menanyakan apakah Woo Ri bertemu dengan Ji Min kemarin.
“Iya, kenapa? Kau tertarik?” tanya Woo Ri balik.
Seketika, sup yang sudah masuk ke mulut si drummer otomatis keluar.

“Kalian terlihat baik berdua,” ujar Woo Ri.

Di samping mereka makan, ternyata tuan Cha mengintip dari jendela. Dia mengatakan minta maaf pada anak-anak. Dia sedang membuat uang. *mungkin maksudnya mencari uang.
Setelah itu, tuan Cha pergi.

Si drummer menertawai ucapan Woo Ri, bahkan mengatakan Woo Ri gila. Dia lalu mengubah topic pembicaraan dengan menanyakan apakah Woo Ri tahu kalau semalam Won Yeong tidur di luar.
Tiba-tiba Woo Ri tersedak. “Lalu kenapa? Apa hubungannya denganku?” tanya Woo Ri dengan mulut yang penuh nasi sehingga nasi di mulutnya memuncrat ke wajah si drummer.


Tiba-tiba Woo Ri terkenang masa lalunya bersama Won Yeong. Dulu saat Woo Ri tidur di luar, Won Yeong mengatakan, walaupun Woo Ri sibuk belajar, tapi dia harus tetap tidur di rumah. Jika Won Yeong tidak melihatnya selama 12 jam, maka dia akan melapor ke polisi. Mereka pun membuat perjanjian agar tidur di rumah.

Kenangan yang indah. Dikenangan itu pula, Won Yeong mencium Woo Ri.

“Maksudku, jika kau khawatir, kenapa tidak telepon saja?” suruh si drummer. Wajahnya penuh dengan nasi.
“Kau bercanda?” bentak Woo Ri. “Dia memang seharusnya di luar, di jalanan. Semoga mulutnya tidak bengkok. Seharusnya kau yang khawatir jika mulutnya bengkok. Siapa yang akan bernyanyi jika mulutnya bengkok?” Lagi-lagi Woo Ri berbicara dengan memuncratkan nasi dari mulutnya. Setelah mengucapkan dan menyemburkan semua itu, dia kemudian pergi.

Si pianis yang polos langsung browshing di internet mencari cara mengobati mulut bengkok.

Di tempat biasanya Woo Ri bertemu dengan Ji Min, dia menatap ponselnya. Ada keinginan untuk menelpon Won Yeong, namun juga sebaliknya.
“Mengapa aku harus peduli? Dia dengan seorang gadis, atau akan mati kelaparan?” kesalnya.

Lalu dia melempar anak panah kecil ke foto-foto para couple yang tertempel di dinding sambil mengatakan, “Putus! Aku benci semua couple!” Lucunya, saat anak panah itu mengenai sebuah foto, tiba-tiba foto itu langsung menangis.


Kemudian, Ji Min masuk. Dia terkejut karena tiba-tiba ada anak panah melayang di dekat pintu. “Apa yang kau lakukan?”
Woo Ri tidak menjawab. Ji Min mengatakan setidaknya Woo Ri terlihat lebih manusiawi saat berpacaran dengan Won Yeong. Woo Ri harus pacaran lagi, atau mencari pekerjaan.

“Apa gunanya pacaran?” tanya Woo Ri. Nampaknya dia benar-benar trauma pacaran. “Kau membuang waktu dan uangmu, lalu berpikir kau tidak bisa hidup tanpa dia. Semua itu hilang hanya dengan satu kata, PUTUS.” Kemudian dia mengumpat ke foto-foto couple agar mereka putus.
Ji Min meletakkan botol anggur-nya di atas meja, lalu berbicara pelan-pelan pada Woo Ri.”Dengar baik-baik. Kita perlu keseimbangan Yin dan Yang untuk perdamaian dunia.”
“Sudahlah. Aku berharap aku tidak pernah pacaran sepertimu,” ucap Woo Ri.
Ji Min yang sementara minum anggur langsung mengeluarkannya lagi ke gelas. “Apa? tidak pernah pacaran? Aku? Astaga, sepertinya kau benar-benar salah paham. Aku punya banyak pengalaman,” terang Ji Min shock mendengar ucapan Woo Ri.

Sekarang Woo Ri akan fokus pada pekerjaan, jadi dia tidak ingin ditelpon.
“Lucunya. Aku juga orang yang sibuk,” ucap Ji Min.
Woo Ri optimis akan menjadi kaya dan akan membeli semua pria di muka bumi. Kemudian Woo Ri pergi.
Ji Min memarahi Woo Ri karena mengatakan dia tidak pernah pacaran.

Sementara itu, Won Yeong memasuki sebuah gedung dimana diadakan konser. Dia hendak menemui seseorang yang telah mengambil ponselnya.

“Bagaiman aku bisa menemukanmu di sini?” tanya Won Yeong saat Ni Na menelponnya. Tentu saja Won Yeong mengatakan demikian, karena dia baru masuk saja sudah banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk.

Ni Na menyuruh Won Yeong ke pintu masuk. Dia akan ke sana.
Saat Ni Na tiba di pintu masuk, dia duluan yang melihat Won Yeong. “Jika kau masih tidak tahu, carilah salah satu perempuan yang paling tinggi dan canti.”
“Apa?” heran Won Yeong. Lalu panggilang dimatikan oleh Ni Na.

Ni Na menghampiri Won Yeong, lalu dia mengambil ponselnya dan menyuruh Won Yeong menunggu sebentar. Kemudian dia masuk lagi tanpa mengembalikan ponsel Won Yeong.

Won Yeong terdiam sejenak, lalu dia berteriak, “300 dolar ku! Tidak, ponselku!” Kemudian dia mengejar Ni Na ke dalam, namun dia kehilangan Ni Na. Saat dia berpapasan dengan seseorang, dia hendak bertanya, namun orang itu sepertinya sibuk. Dia berjalan cepat sambil menelpon, dan tidak mau berhenti saat Won Yeong hendak bertanya. Sepertinya dia salah satu crew.



Tiba-tiba Won Yeong mendengar seseorang yang sepertinya sedang nge-MC. Dia membuka salah satu pintu karena mendengar suaranya berasal dari sana. Saat pintu terbuka, suaranya semakin jelas. Tak hanya suara, Won Yeong bisa melihat panggung dengan penonton di bawahnya. Posisi Won Yeong yang berada di atas memungkin melihat keseluruhan studio.
Won Yeong terpaku melihatnya.

Sementara itu, Ni Na menonton video ‘Band Aku Tidak Tahu’ yang manggung di pinggir jalan dari ponsel Won Yeong. Saat dia sedang asyik menikmati video tersebut, tiba-tiba seseorang datang. Segera Ni Na meletakkan ponsel itu.


“Ni Na mengapa kau selalu bekerja keras di menit-menit terakhir?” tanya Ji Hoo bangga. “Mereka sudah mendapatkan track-nya dan kontrak baru saja dikonfirmasi.”
“Lihatlah, aku membuatnya lagi.”
“Oh, ya kau benar.”
Tiba-tiba salah satu crew masuk sambil mengatakan kalau mereka punya masalah. Band Ahjacha tidak bisa tampil hari ini.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Ji Hoo tidak percaya.
Ni Na mengatakan kalau itu tidak mungkin, karena mereka mengirim sms saat mereka akan berangkat.
Crew itu menjelaskan kalau sebenarnya mereka terlibat perkelahian di dalam mobi, lalu dibubarkan. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah masing-masing.
Ni Na mengatakan mereka saja belum debut. Dibubarkan pasti hanya lelucon. Kemudian dia menelpon pihak Band Ahjacha.
Mereka tidak punya waktu lagi untuk mengganti penampil berikutnya. Hanya kurang satu jam waktu mereka untuk menemukan penggantinya.

Panggilan yang dilakukan Ni Na rupanya tak dijawab oleh pihat Band Ahjacha. Hal itu membuatnya bingung. Lalu tiba-tiba idenya muncul saat melihat ponsel Won Yeong.

Lagi-lagi Woo Ri menatap ponselnya. Dia berpikir untuk menelpon Won Yeong, namun juga sebaliknya.
“Tidak. Mengapa aku menelponnya?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Lalu dia dengan sengaja memencet tombol memanggil, namun mengatakan itu tidak sengaja. Dia malah merutuk ponsel touch. Terdengarlah NSP lagu Band Aku Tidak Tahu mengalun. Tanpa sadar Woo Ri menikmati lagu itu.

Tiba-tiba keasyikannya buyar karena panggilan terangkat. Yang terdengar bukan suara Won Yeong, melainkan suara perempuan (Ni Na). Segera Woo Ri mematikan panggilan. Dia mengira salah menelpon orang, tapi ternyata tidak.
“Dia sudah bersama seorang gadis? Wah, Woo Ri, kenapa kau memanggilnya, bodoh? Ah, aku benci hidupku!” rutuknya. Kemudian dia meminum segelas minuman yang ada di sampingnya. Padahal minuman itu bukan miliknya, melainkan milik Hyung Woo yang kebetulan lewat, lalu meletakkan minumannya di situ karena hendak memperbaiki tali sepatunya yang lepas.
Saat Hyung Woo selesai mengikat tali sepatunya, dia terkejut karena Woo Ri meminum airnya.


“Apa lagi sekarang?” kesal Woo Ri saat ada pesan masuk di ponselnya.
Saat membaca pesan itu, Woo Ri seperti terkena serangan jantung tiba-tiba. Dia sangat terkejut ples senang.

Massage from Gaha Entertainment : Nomor 21, No Woo Ri silahkan datang untuk wawancara. Buku referensi “Sound of Youth”.

Akhirnya dia lolos ketahap berikutnya. Saking senangnya, dia sampai berjoget-joget. Hyung Woo yang melihatnya jadi malu sendiri. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum.


Won Yeong menikmati menonton konser. Dia sepertinya ingin manggung juga. Dia bahkan bergaya seolah-olah sedang bermain gitar.

Di sisi lain, Ni Na mencari Won Yeong. Dan akhirnya dia menemukannya.
Won Yeong terkejut karena Ni Na tiba-tiba muncul.
“Aku menyuruhmu menunggu, kenapa kau jalan kemana-mana?” tanya Ni Na.
“Karena kau tidak datang,” jawab Won Yeong. Lalu dia meminta ponselnya kembali.

Ni Na menyuruhnya menunggu dan mengikutitnya. Dia bahkan menarik tangan Won Yeong. Namun, Won Yeong melepaskannya dan mengatakan kalau tidak mau bagaimana.

Jika Won Yeong tidak mau, maka dia tidak dapat mengambil ponselnya kembali. Ni Na memberitahu kalau dia sudah menonton video Won Yeong. “Band Aku Tidak Tahu, kau penyanyinya?”
“Kenapa kau melihat ponselku?” gerutu Won Yeong, yang merasa privasinya diganggu.
“Aku Yoon Ni Na dari Mars Musik,” ucap Ni Na memperkanalkan.
“Lalu?” tanya Won Yeong.
“Apa kau tidak ingin mendapatkan lebih dari 300 dolar?” Ni Na mulai menawarkan.
Won Yeong berpikir sejenak. Sebelum dia sempat menjawab, Ni Na ditelpon temannya dan pergi. Won Yeong pun mengikuti Ni Na.


Ni Na dan Won Yeong kini berada di ruang ganti. Salah satu crew memberikan Won Yeong gitar, kemudian pergi. Sedangkan Ni Na mengecek beberapa daftar.


Won Yeong bertanya pada Ni Na apakah dia selalu sibuk. Won Yeong memberikan saran agar tidak terlalu keras, atau nanti dia akan kehilangan semuanya.
Ni Na nampaknya tersentuh dengan ucapan Won Yeong. Dia bahkan tak bisa berkata-kata.


Beberapa saat kemudian, teman-teman se-band Won Yeong datang. Mereka pasti buru-buru. Si drummer datang dengan masih mengenakan celemek.

Saat melihat Ni Na, si drummer ingin bertanya sesuatu pada Ni Na, namun ia dicueki. Lalu dia beralih bertanya pada Won Yeong. Dia bertanya apa yang terjadi padanya semalam. Sebelum sempat dijawab, mereka sudah panggil untuk bersiap naik panggung.


Saat pembawa acara mempersilahkan mereka untuk naik panggung, mereka pun naik panggung. Si drummer berteriak histeris, namun penonton hanya diam saja. Bahkan saat mereka memperkenalkan band mereka, tak ada seorangpun yang merespon.

Agak mengecewakan memang, namun mereka tetap bermain music. Dan saat mereka bermain music, para penonton bergoyang mengikuti irama.


Dari atas, Ni Na rupanya memperhatikan band itu manggung.
“Akhirnya kutemukan,” gumamnya.

Sementara itu, Woo Ri sedang mencari buku referensi “Sound of Youth” di perpustakaan. Dia mendapatkan buku itu berada di rak paling atas. Dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, Woo Ri agak susah menggapainya. Woo Ri hampir terjatuh saat mengambil buku itu. Untung ada seseorang di belakangnya yang membantu Woo Ri mengambil buku itu, dan saat Woo Ri hendak jatuh, tubuhnya ditahan olehnya.

No comments:

Post a Comment