Sunday, July 24, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 19


Ulasan part sebelumnya

            Rupanya Dicky ada di belakang sekolah. Dia berduel dengan Ham, Mulda, dan Rangga. Dilihat dari jumlah, memang tidak seimbang, tapi menurut Dicky sudah seimbang, karena dia masih memiliki kekuatan marmetu manis.


            Ham menyerang terlebih dahulu. Tanpa ragu ataupun takut, Dicky menangkis serangan Ham. Mulda juga ikut menyerang bersamaan dengan Rangga. Beberapa serangan dari mereka mampu Dicky atasi. Dicky juga beberapa kali balas menyerang. Dengan kekuatan mereka yang sepertinya seimbang, tak ada dari mereka yang roboh ataupun terluka terkena serangan. Namun, sayang, keseimbangan kekuatan mereka hanya bertahan setengah jam. Dicky, yang entah mengapa, energinya berkurang.

            “Sial! kenapa aku lelah? Dan juga panas matahari ini serasa terbakar. Apa jangan-jangan kekuatan marmetu manis sudah mulai memudar?” batin Dicky. Dia berhenti menyerang. Dadanya naik turun. Ham, Mulda, dan Rangga merasakan energi Dicky sudah menurun. Mereka tersenyum meremehkan.

            “Sepertinya, kamu udah nggak mampu menyerang kami. Mau menyerah, atau  kita lanjutkan pertarungan ini?”

            “Nggak mungkin aku menyerah. Tapi, panas ini... Aku sungguh nggak tahan.”

Dicky tidak mau menyerah, namun dia tidak sanggup lagi melanjutkan pertarungan. Akhirnya, Dicky memutuskan untuk melarikan diri. Walaupun dia tahu ini adalah tindakan yang paling pengecut, tetapi hanya ini yang dapat dia lakukan.

“Wah, dia kabur!” teriak Mulda.

“Kita kejar?”

             “Enggak perlu. Kita urus yang di sini dulu.”


Part 19 Marmetu Manis

          Ketiga vampir itu bukannya mengejar Dicky, tetapi malah menghampiri seseorang yang diam-diam bersembunyi melihat pertarungan mereka.

            “Agrh!” teriak Nindi tercekat, seolah suaranya pun takut untuk di keluarkan saat mereka berada dihadapannya. Dia sudah tahu apa sebenarnya mereka.

            “Jangan takut, kita nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok,” ucap Ham seraya mengelus pipi Nindi dari atas hingga bawah.

            Glek!

            Nindi menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin pun keluar dari tubuhnya. Jantungnya berpacu dengan kencang

            “Asal, kamu mau bantu aku,” lanjut Ham.

            “Mau tidak?” tanya Rangga karena Nindi tak menjawab.

            “Ba...ba...ba...bantu apa?”

            Ham mengambil ponsel yang digenggam Nindi. Dia menggantungkannya di depan mata Nindi.

edededede

            Dicky yang kemarin kelelahan dan kemampuan bertahan terhadap sinar matahari berkurang, sekarang sudah mulai membaik setelah beristirahat. Rasa lelahnya memang sudah hilang, namun paparan sinar matahari sedikit mengganggunya. Walaupun tidak apa-apa saat terkena sinar matahari, tapi rasanya lebih panas dari biasanya. Dia tahu ini akan terjadi. Mendekati 100 hari sedikit demi sedikit kemampuan hebat marmetu manis akan menghilang.

            Dicky tampak ragu untuk duduk di bangkunya. Tentu saja, bangku yang selama ini dia tempati berada di dekat jendela yang jika masih pagi seperti ini, sinar matahari akan masuk. Wenda melihat keraguan Dicky.

            “Mau tukar tempat?” tawar Wenda. “Hari ini aku pengen duduk di dekat jendela. Mau cari suasana baru. Lagi suntuk nih,” lanjutnya seraya tersenyum.

            Mereka pun bertukar tempat.

“....kamu harus menghindari vampir-vampir ini. Ham, Mulda, Rangga, dan Dicky.”

            Kalimat madam Ros kembali terngiang di telinganya. Walaupun selama ini Wenda terkesan sudah menghindari Dicky, namun sebenarnya dia tidak ingin menghindarinya. Menurutnya Dicky itu baik. Ataukah mungkin Wenda menyukai Dicky? Namun karena dia ada ikatan dengan Bisma, dia berusaha menghindari Dicky?

edededede

            Jam istirahat.

            Mendapat aba-aba dari Ham, Nindi memulai aksinya. Dia menghampiri Lutfi dan Atika.

            “Girls, kalian tau, nggak? Kalau selama ini kita ditipu oleh Dicky?” tanya Nindi. Terdengar jelas dari nada suaranya kalau Nindi masih ketakutan. Tapi, teman-temannya tak menyadari itu.

            “Maksudmu apa, Nin?”

            “Lihat ini!” Nindi menunjukkan ponselnya.

            Lutfi dan Atika langsung shock melihat foto tersebut.

            “Ternyata Dicky adalah vampir.”

            Kemarin, saat Nindi tak sengaja lewat dan melihat pertarungan vampir-vampir itu, dia sempat memfoto-foto mereka. Foto yang diperlihatkan ke teman-temannya itu tentunya hanya foto Dicky. Ham menyuruh Nindi melakukan itu, agar orang-orang tahu identitas dia sebenarnya. Jika orang-orang tahu bahwa Dicky adalah vampir, maka orang-orang akan berusaha menyingkirkannya. Sehingga kesempatan Ham lebih besar untuk mendapatkan marmetu manis.

            Awalnya mereka tak langsung percaya, namun karena pintarnya Nindi berbicara, mereka akhirnya percaya. Tak butuh waktu lama, informasi tersebut langsung menyebar ke semua murid. Di kantin, toilet, di taman, di lapangan, di perpustakaan, bahkan di lorong-lorong sekolah pun, yang penting ada murid yang sedang ngumpul di sana, mereka membicarakan satu topik, yaitu “Dicky Si Vampir”.

            Mereka jadi takut saat melihat Dicky. Namun, dari tatapan mereka, ada juga rasa ingin membunuh vampir itu agar tidak menghisap darahnya.

            Wenda yang juga mendengar berita tersebut segera mencari Dicky yang tiba-tiba menghilang.

            Hap!

            Seseorang menarik tangan Wenda.

            “Nyari seseorang?” tanya Bisma. Dia curiga kalau sekarang Wenda sedang mencari Dicky.

            “Kak Bisma?!”

            “Apa kamu nggak takut dengan dia?”

            “Maksudnya?” tanya Wenda pura-pura tak mengerti.

            “Jujur, aku nggak mau percaya kalau kamu selingkuh sama dia. Tapi, kalau pun iya, aku nggak mau. Karena aku takut dia akan membahayakanmu.”

            “Selingkuh?” Kali ini Wenda benar-benar tidak mengerti.

            “Aku nggak mau kamu jadi makhluk seperti dia juga. Jadi, aku mohon tetaplah di sampingku dan tua bersama,” pinta Bisma. Dia ingat film Twilight dimana Bella yang menyukai vampir akhirnya berubah menjadi vampir juga.

            Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Semua murid berlari kearah asal suara. Begitu pula Wenda dan Bisma.

            “Ada apa?”

            “Dicky membunuhnya.”
            “Dicky menggigitnya.”

            Salah satu murid meninggal dunia dengan bekas luka gigitan dilehernya. Semua murid langsung berspekulasi bahwa pelakunya adalah Dicky.

            Segera Wenda hendak mencari Dicky kembali. Namun, Bisma menahannya dengan menggenggam lengannya.

            “Kamu lihat, kan? Dicky berbahaya.”

            “Dia nggak berbahaya. Pasti bukan Dicky pelakunya.”

            “Dari mana kamu yakin? Dicky itu vampir.”

         “Enggak!” seru Wenda seraya melepas genggaman Bisma. Kemudian dia pergi menjauh kerumunan orang-orang. Bisma tak dapat mengejarnya lagi.

~Flasback to Two Night Ago~

            Di jalan rumahnya sepulang dari apartemen Reza, Wenda merasakan hawa yang berbeda. Dia teringat kalimat Reza yang mengatakan bahwa ada vampir yang mengikutinya. Walaupun vampir itu tidak mengincar darahnya, tapi tentu saja Wenda tetap takut. Dengan cepat Wenda melangkahkan kakinya agar segera tiba di rumah.

            Sesampainya di rumah, dia langsung mengunci pintu dan masuk ke dalam kamar. Kamarnya juga langsung ia kunci.

            Kresek...

            Angin malam masuk melalui jendela yang tiba-tiba terbuka. Agak takut, Wenda menutup kembali jendelanya dan tak lupa menguncinya. Ketika ia berbalik...

            “A... agh..” Mulut Wenda didekap.

            “Ssstt... Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Jadi, diam ya.”

            Wenda mengangguk. Kemudian orang itu melepaskan tangannya dari mulut Wenda.

            “Maaf kalau aku masuk diam-diam ke sini. Aku tahu kamu sudah tahu aku siapa. Dan aku juga tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan orang yang mirip Ham. Wah, aku terkejut sekali waktu lihat dia. Mereka berwajah mirip, tapi mereka makhluk berbeda. Terlepas dari itu, aku mohon, jangan menghindariku. Sudah berapa banyak yang kamu tahu tentang makhluk sepertiku?”

            “Hampir semua.”

            “Kalau gitu, bisa nggak kamu berpihak kepadaku?”

            Wenda tak langsung menjawab.

           “Aku harap kamu berpihak padaku karena aku nggak mau hidup dengan meminum darah manusia. Bahkan darah hewanpun aku tidak mau. Jadi, agar aku bisa hidup tanpa harus meminum darah, aku sangat membutuhkan marmetu manis, karena sangat mustahil bagi vampir untuk menjadi manusia. Lagi pula, Ham itu bukan vampir yang baik. Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan kekuatan dari marmetu manis.”


~Flashback Off~

--------------

*Bersambung*

No comments:

Post a Comment