Monday, July 11, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 16



            Reza mengeluarkan selembar kertas dari laci yang sudah kusut, namun masih terlihat jelas apa yang tergores di kertas itu. Sketsa kakek Kirman, kakeknya Wenda.

~Flasback On~

            Seorang pria berbadan tinggi besar berdiri dihadapan seorang bocah laki-laki yang duduk di kursi yang lumayan tinggi sehingga tinggi keduanya tidak jauh berbeda. Dari jubah hitam besar yang pria itu kenakan, dia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat.


            “Cari keturunan orang ini, si manusia spesial,” ujar pria itu seraya memberikan secarik keras pada anak laki-laki yang tak lain adalah Reza kecil. Umurnya sekitar 10 tahun. “Dia akan membantumu selamat.”

            Reza kecil itu membuka lipatan-lipatan kertas. Terlihat gambaran seorang kakek-kakek dengan latar belakang sebuah rumah. Setelah mengamati gambar itu, Reza kecil mengangguk.

            Pria itu mengelus kepala Reza kecil.

“Sekarang ayah tidak bisa mengunjungimu lagi. Jadi, kamu harus bisa mandiri mulai dari sekarang. Mengerti?”

            “Mengerti, ayah,” jawab Reza kecil pada pria yang merupakan ayahnya itu. Reza kecil yang sudah diberitahu segala kejadian-kejadian yang mungkin akan menimpanya kelak, tidak terkejut lagi saat ayahnya berkata demikian.

            “Kalau begitu ayah pergi,” ucap ayah Reza.

           Reza kecil hanya bisa melihat kepergian ayahnya yang sudah tidak bisa ia temui lagi. Punggung itu, ini terakhir kalinya dia melihatnya. Reza kecil tidak berkedip melihat sosok sang ayah hingga hilang dibalik pintu.

~Flashback Off~

            “Kalau Wenda memang keturunannya kakek ini, berarti dia adalah manusia spesial,” ujar Reza seraya menatap lekat foto itu. Kemudian dia memasukkannya ke dalam laci kembali.

            Diambilnya jaket lalu dia keluar dari rumah. Malam ini dia bertekad menemui Wenda.

            Sesampai di rumahnya Wenda, mama Wenda yang membukakan pintu.

            “Nak, Reza?” heran mama Wenda, pasalnya dia tak memesan apapun.

            “Wendanya ada, Bu’?” tanya Reza.

         Mama Wenda mengernyitkan kening tanda bingung. Untuk apa Reza mencari anaknya? Pikirnya.

            “Ada yang mau saya bicarakan sama dia, Bu’.”

          “Tapi Wenda gak ada di rumah. Katanya mau pergi ke festival sama temen-temennya.”

            “Festival Starlit Night ya, Bu’?” tanya Reza memperjelas.

            “Iya.”

            Kemudian Reza pamit. Dia segera pergi ke Festival Starlit Night.

       Mama Wenda agak heran. Dia bertanya-tanya untuk apa si pengirim barang itu mencarai anaknya. Tak lama setelah ia masuk ke dalam rumah, kembali seseorang mengetuk pintu hijau itu.

            “Malam, tante,” sapa Bisma mencium punggung tangan mama Wenda, kebiasaan yang dilakukan Bisma saat bertemu dengan mama Wenda.

            “Cari Wenda ya?”

            “Iya, tante. Wendanya ada?”

            “Pergi ke Festival sama temannya.”

            “Temannya yang mana ya, tante?” tanya Bisma yang khawatir kalau Wenda pergi bersama Dicky.

            “Wendanya nggak bilang tuh. Tapi, sama siapa lagi dia pergi? Pasti sama Ara dan Riri.”

            “Oh, kalau gitu saya nyusul mereka dulu ya, tante.”

            Mama Wenda mengangguk.

            Kembali Bisma mencium punggung tangan mama Wenda.

edededede

          Wenda memasuki Festival. Dia tidak bersama teman-temannya seperti yang dikatakan mamanya pada Reza tadi. Dengan wajah resah, Wenda menghampiri tempat madam Ros. Namun saat dia tiba, tenda madam Ros sudah tidak ada. Lokasinya kosong.

            “Kemana Madam Ros?” pikir Wenda, yang melanjutkan mencari ke tempat lain.

            Wenda berkeliling arena festival untuk mencai keberadaan madam Ros, namun ia tak kunjung menemukannya.

            Tap!

            Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang saat ia berhenti sesaat karena lelah.

             “Reza?” tanya Wenda heran saat dia berbalik untuk melihat seseorang yang menepuk pundaknya.

            “Ada yang mau aku bicarakan. Tapi, nggak disini.”

            Wenda menatap Reza tajam.

            “Jangan khawatir. Aku nggak ada niat apa-apa kok. Hanya saja, aku ngerasa kamu lagi dibuntuti.”           

edededede

--------------


*Bersambung*

No comments:

Post a Comment