Tuesday, August 14, 2018

[Cerbung] Kita Berbeda part 6


Ulasan part 5
            Setelah pria-pria yang mengganggu Annisa pergi, Dicky membawa Annisa masuk ke dalam mobil Dicky yang tak jauh dari mobil Annisa.
            “Kamu gak apa-apa?” tanya Dicky khawatir.
          Annisa menggeleng, tapi wajahnya masih terlihat shock. “Terimakasih, Dic. Aku gak tahu gimana aku kalau kamu gak datang. Tapi, kamu kok bisa di sini?”
            “Semenjak kamu bilang kalau kamu selalu lewat tempat kayak gini, aku selalu ikutin kamu.”
           Air mata Annisa meleleh. “Terimakasih, Dicky. Dari kecil sampai sekarang kamu selalu jagain aku.”
         “Bukan hanya sampai sekarang, tapi sampai kamu menemukan orang yang bisa menjagamu selain aku.”

--FLASHBACK OFF—


--Kita Berbeda part 6--

       Kalimat terakhir Dicky tiga tahun silamlah yang membuatnya selalu menemani Annisa kemanapun dia pergi. Terlebih Annisa tidak mempunyai kakak laki-laki, dan ayahnya juga telah meninggal. Makanya, sebagai sepupu laki-laki yang baik, Dicky merasa berkewajiban menjaga Annisa.
* * *
            Bisma menghentikan motornya saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Dia melirik sedikit ke dalam mobil yang ada di samping kanannya. Tiba-tiba matanya membulat saat melihat seorang perempuan duduk di samping si pengemudi. Bisma baru saja hendak menegur orang di dalam mobil, tapi mobil itu keburu melaju.
            Bisma mengejar mobil itu. Bukannya Bisma yang terlalu lamban mengendarai motor, tapi karena banyak kendaraan yang menghalangi jalannya, sampai akhirnya dia tertahan di lampu merah. Mobil yang dia kejar berhasil lolos melewati lampu merah.
            “Shit!” Bisma memukul kepala motornya. Dia kehilangan gadis yang ingin dia temui selama tiga tahun. Dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan cinta itu tak bisa hilang begitu saja. Bisma pun tak tahu mengapa.
        Malam harinya, setelah Bisma berada di rumah, dia tidak bisa tidur karena memikirkan pertemuannya dengan gadis itu tadi siang. Tapi sepertinya itu tidak bisa dibilang pertemuan, karena gadis itu sama sekali tidak melihat padanya.
         “Laki-laki di sampingnya adalah orang yang sama. Siapa dia? Apa dia pacarnya?” Bisma bertanya-tanya.
* * *
            “Hallo, Ros? Ada apa?” Tangan kanan Annisa memegang handphone-nya, sedangkan tangan kirinya sibuk merapikan baju yang akan dipajang di butik mamanya.
            “Tau gak, Nis. Ternyata mahasiswa pengganti lo itu beneran ganteng, Nis. Gue jadi betah melek,” ujar Rosa dengan semangat.
            “Bagus dong. Jadi lo gak tidur lagi di kelas,” ledek Annisa. “Eh, gue lagi sibuk nih. Kalau lo mau curhat tentang dia, besok aja yah.”
            “Iya deh, sekalian gue mau kasih tau orangnya.”
            “He-eh…” Annisa mengangguk pelan.
       Sambungan terputus. Annisa meletakkan handphone­-nya di meja, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
            “Nisa,” panggil kak Ria menghampiri Annisa.
            “Iya, kak. Ada apa?” sahut Annisa.
           “Besok kita belanja ya. Bahan-bahan di dapur udah mau habis. Eh, tapi besok kamu kuliah gak sih?”
            “Kuliah. Tapi, aku bisa kok sepulang kuliah.”
            “Ok. Besok aku jemput kamu.”
             "Sip."
* * *

[Bersambung]

No comments:

Post a Comment