Monday, June 13, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 4



Cuplikan Part Sebelumnya


            Wendak tersentak. Dia terbangun dari tidurnya saat petir menyambar sesuatu di luar sana. Tenggorokkannya mendadak kering, dia lalu keluar dari kamar untuk minum. Saat dia berjalan ke dapur, dia melihat salah satu jendela terbuka dan tertutup ditiup angin. Pasti mamanya lupa mengunci jendela itu, pikir Wenda. Kemudian dia menutup jendela itu, dan pergi ke dapur mengambil air.

            Wenda menuangkan air ke gelasnya, dan tepat saat itu lampu padam. Dia pun mencari lilin di rak. Tangannya meraba-raba rak itu, dan….

            “Aw!” jerit Wenda tertahan. Jari telunjuknya berdarah karena tak sengaja menyentuh ujung pisau yang tajam. Tidak biasanya mamanya menaruh pisau di situ.


            Setelah menyelakan lilin, Wenda mengobati lukanya. Kemudian dia kembali mengambil air. Saat dia menenggak segelas air, tiba-tiba dia melihat bayangan selain dirinya. Bayangan itu seperti bayangan laki-laki. Dia menaruh gelasnya di atas meja dengan berusaha bersikap biasa walau kini dia sedang takut.


Part 4

            “Siapa itu? Jangan-jangan jendela yang terbuka tadi, orang itu yang melakukannya. Apa dia maling?” pikirnya resah.

            Apa yang harus dilakukannya. Bayangan itu semakin mendekat. Saat dia melihat tempat sendok dan garpu yang ada di depannya, takutnya berkurang walau hanya 0,001%. Dengan memberikan diri, dia menghitung mundur di dalam hati, lalu segera menengok ke belakang sambil meraih garpu dan menodongkannya dengan cepat. Namun, saat dia berpalik, tak ada siapa-siapa di sana.

            DYAARRR….

            Petir kembali menyambar. Wenda berteriak sambil tunduk.

            “Wenda!” panggil mamanya dari dalam kamar.

            Menyadari itu hanya petir yang menyambar sesuatu di luar, bukan di sekitarnya apalagi dirinya, Wenda berdiri.

            “Ada apa, Nak?” tanya nyonya Lisa menghampiri anaknya.

            “Enggak ada apa-apa, Ma. Wenda cuman kaget,” jawab Wenda.

            “O. Tapi kamu kenapa di sini?”

            “Tadi Wenda habis minum.”

            “Ya sudah, kembali ke kamar gih.”

            Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Saat Wenda sudah merebahkan tubuhnya kembali, dia masih memikirkan bayangan tadi. Dia masih curiga. Tapi, kemudian dia tertidur pulas.

            Diam-diam Dicky memperhatikan Wenda yang telah tidur.


~Flashback to a few minuts before Wenda wake up~

            Dicky masuk ke dalam rumah Wenda melalui jendela di dekat dapur, karena hanya itu satu-satunya yang tidak terkunci. Saat dia hendak menutup jendela, tiba-tiba Wenda keluar dari kamar. Dengan kecepatannya, Dicky dapat bersembunyi sebelum Wenda melihatnya.

            Dicky memperhatikan Wenda yang mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Dia menyelinap ke dalam untuk memperhatikan wajah Wenda. Dia berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia bukanlah gadis yang dia kenal seratus tahun yang lalu. Namun, semakin dia memperhatikan gadis itu, semakin miriplah dia dengan seseorang yang pernah dekat dengannya dulu.

            Seperti pada gadis 100 tahun yang lalu, pada Wenda juga muncul rasa care. Saat Wenda menjerit karena tangannya terkena pisau, hampir saja Dicky keluar dari persembunyiannya.

            Walaupun dia bisa mengontrol dirinya, melihat Wenda semakin lama, membuat dia berjalan mendekatinya secara tak sadar. Saat Wenda berbalik dengan gerakan cepatnya itu, Dicky jauh lebih cepat. Dicky menyadari Wenda hendak berbalik, makanya dia segera berpindah tempat di kegelapan.

            Saat petir menyambar, Wenda berteriak. Dicky ingin menghampirinya lagi, namun dia menahan diri.


~Back to present~


            Lekat. Dicky menatap wajah Wenda.

            “Apakah kamu bereinkarnasi, Tini?” gumam Dicky.

edededede

           “Kenapa kita harus beda sekolah?” tanya Mulda pada kedua temannya di ruang isolasi. Mereka mengenakan seragam sekolah SMA yang berbeda-beda.

            “Kota ini luas. Kita harus berpencar supaya lebih mudah menemukan manusia special,” jawab Ilham.

“Kalian yang hidup lebih lama dariku, apa kalian nggak tahu bagaimana rupa manusia special itu, atau paling enggak ciri-ciri khusus?” tanya Ilham.

“Enggak ada yang tahu,” jawab Rangga. “Aku yang udah di sini seratus tahun lebih saja nggak tahu vampire mana yang beruntung mendapatkan marmetu manis. Aku cuman bisa nyium bau marmetu manis yang sampai sekarang masih aku ingat aromanya.”

“Yap, paling-paling yang tahu hanya vampire yang pernah mendapatkan maremetu manis,” tambah Mulda.

Inilah awal dari ketiga vampire itu mencari marmetu manis yang hanya muncul seratus tahun sekali, dan akan muncul di kota yang sama selama tiga kali berturut-turut.

edededede
            Kringg….

            Beberapa saat setelah bel berbunyi, seorang guru masuk ke kelas X.3 dimana Wenda, Riri, dan Ara berada.

            “Murid-murid, hari ini kalian punya teman baru,” ujar Bu’ Rahma, wali kelas X.3. Kemudian Bu’ Rahma mempersilahkan murid baru itu untuk masuk.

            Semua murid melihat kearah pintu. Mereka penasaran dengan murid baru itu. Namun, Ara nampaknya tak peduli dengan itu. Sejak tadi dia melamun. Ya, dia melamun. Dia bahkan tak memperhatikan murid baru itu yang sudah masuk dan memperkenalkan diri.


~Flashback to last night~

            Pemuda itu mengantarkan Ara kembali ke kamarnya. Kamar Ara berada sebelum kamar pemuda itu.

            Ara menahan lengan pemuda itu saat ia hendak ke kamarnya.

            “Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri,” pinta Ara dengan suara bergetar.

            Pemuda itu melihat Ara yang tertunduk. Karena merasa kasihan, dia menemani Ara di kamar Ara. Dia menyuruh Ara untuk tidur dan dia yang akan menjaganya. Ara mengangguk. Dia lalu tidur. Namun, saat petir itu kembali terdengar, Ara terlonjak. Matanya semakin memejam erat, dan tangannya mengepal sambil menutup telinganya.

            Pemuda itu meraih tangan Ara dan menggenggamnya. Walaupun Ara masih takut saat petir terdengar, tapi setidaknya dia tak begitu takut lagi karena dia meresakan ada orang yang menjaganya.

~Back to present~


“Kamu duduk di belakang sana saja ya,” tunjuk Bu’ Rahma ke bangku kosong di samping Ara.

            Murid baru itu kemudian duduk di samping Ara. Ara masih melamun tak menyadari kalau ada seseorang yang duduk di sampingnya. Makanya dia terpekik saat menoleh ke samping.

            “Ada apa, Ara? Murid baru itu tidak mengganggumu, kan?” tanya Bu’ Rahma yang telah memulai pelajaran.

            “Mu..Murid baru?!”  pekik Ara dalam hati.

--------------

*Bersambung*

No comments:

Post a Comment