Wednesday, June 29, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 9



            Di gedung paling atas, yang biasa di sebut atap gedung, Wenda duduk di pinggir banggunan. Dia memperhatikan kembali gambaran yang ia gambar. Siapa tahu dia pernah melihat orang itu jauh sebelumnya, tapi dia lupa. Lama Wenda mengamati gambar itu. Jika cuaca tidak mendung, mungkin dia sudah menjadi ikan kering asin di sana.


            “Wenda, apa yang kamu lakuin sendirian di sini?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang membuat Wenda tersentak, dan tak sengaja melempar buku gambarnya sehingga terjatuh ke bawah gedung.

            “Buku gambarku!” teriak Wenda sambil melihat ke bawah.

            “Maaf. Aku pasti ngagetin kamu. Biar aku ambil.” Segera Bisma berlari masuk dan menuruni tangga.

            “Nggak usah, kak,” cegah Wenda, namun Bisma sudah terlanjur menuruni tangga. Oleh karena itu, Wenda berlari mengejar Bisma. Dia tidak mau kalau Bisma mengetahui apa yang digambarnya akhir-akhir ini.

            Setelah Bisma tiba di bawah, dia tak menemukan buku gambar Wenda, padahal dia yakin jatuhnya tepat di sana. Dia pun bertanya pada murid-murid yang ada di sekitar situ. Beberapa tidak mengetahui ada buku gambar yang jatuh, namun ada juga yang melihat.

            “Iya, aku lihat tadi ada buku gambar yang jatuh dari atas. Terus ada yang ambil bukunya,” kata salah satu murid.

            “Siapa?” tanya Bisma.

            “Aku nggak tahu namanya. Aku juga nggak pernah lihat dia.”

            Jangan-jangan murid baru itu, pikir Wenda dalam hati yang kebetulan baru datang, dan mendengar hal tersebut. Yang awalnya Wenda takut kalau Bisma melihat isi buku gambar, sekarang dia takut kalau buku gambarnya ditemukan oleh Dicky.

            “Kak Bisma, udahlah. Nggak apa-apa kok. Lagian itu nggak penting. Aku kan masih bisa beli yang baru,” ujar Wenda supaya Bisma tak mencari buku gambarnya lagi.

            “Beneran? Tapi aku lihat kamu sering bawa buku itu. Masa’ sih nggak penting?”

            “Iya, kak, nggak penting. Udah yuk, kita pergi aja, kak.”

            Sementara itu, masih di sekolah yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang murid laki-laki berjalan sambil membuka-buka buku gambar milik Wenda. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena seseorang menghalangi jalannya.

            “Apa yang kamu lihat?” tanya Ham kemudian merebut buku gambar itu dari tangan Dicky.

            “Jangan!” sergah Dicky berusaha merebut kembali buku gambar itu, namun Ham beringsut menghindar.

            Setelah membuka-buka buku gambar itu, dia tertawa geli. “Narsis banget, gambarnya cuma wajahmu doang,” kata Ham sambil mengembalikan buku gambar itu.

“Aku peringatkan, ya,” ujar Ham serius. “Aku tahu tujuanmu ke sini. Tapi, lebih baik kamu nyerah aja, karna aku yang bakal dapat tanaman itu.”

Dicky tersenyum menyindir. “Yakin? Emang kamu udah temukan manusia special?”

“Segera!” jawab Ham penuh penekanan.

“Ya udah, kita lihat aja siapa yang berhasil,” ujar Dicky dengan percaya diri. Kemudian dia pergi meninggalkan Ham.

Ham kesal karena merasa diejek.

edededede

           Pulang sekolah Rafael langsung menjenguk Riri di rumahnya.

            “Kan aku bilang apa. Seharusnya kamu nggak usah jenguk aku waktu itu. Sekarang kamu yang sakit,” omel Rafael.

            “Cuma sakit gini aja kok. Ntar juga sembuh.”

            “Riri,” panggil Wenda seraya masuk ke kamar Riri. “Oops, sorry, aku nggak tahu kalau kak Rafael ada di sini,” lanjut Wenda yang hendak pergi lagi. Dia merasa telah mengganggu pasangan yang sedang berduaan.

            “Nggak apa-apa, Wen,” cegah Rafael. “Masuk aja. Kamu kan temennya Riri. Eh, tapi mana yang satunya? Kok Sendiri?”

            “Oh, Ara? Dia langsung ke Coffee Café untuk membayar kerjaannya kamarin yang ia tinggalkan. Oh iya, Ri. Dia minta maaf sama kamu karena nggak bisa jenguk kamu.”

            “Iya, nggak apa-apa. Tapi kenapa dia sampai nggak kerja kemarin? Nggak biasanya.”

            “Ntar lah aku ceritain.”

edededede
  
          19.00 WIB

            Ara yang biasanya sudah ada di rumah, sekarang masih di tempat kerja. Dia harus lembur hari ini untuk membalas cutinya kemarin. Sebenarnya tak ada peraturan seperti itu di Coffe Café, Ara sendiri yang membuatnya seperti itu. Dia merasa bersalah. Lagi pula, besok tidak ada tugas apapun.

            “Selamat datang!” sapa Ara saat seorang pelanggan masuk ke Café.

“Cahyaning Rahayu,” ucap pelanggan itu membaca tag nama di baju Ara. “Nama yang bagus,” pujinya.

“Kamu?!” pekik Ara melihat pelanggan itu ternyata pemuda kamar sebelah.

“Selama ini kita belum berkenalan. Aku Reza Anugrah,” ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya. “Panggil aja aku Reza.”

Dengan senang hati, Ara menyambut uluran tangan Reza. “Kamu bisa panggil aku Ara.”

“Ara? Aku lebih suka Cahya. Boleh aku panggil Cahya?” tanya Reza meminta izin.

“Boleh saja. Itu kan juga namaku. Oh iya, aku pake ini.” Ara menunjukkan sedikit bawang putih yang ia kalungkan.

Reza tersenyum melihatnya.

edededede

--------------


*Bersambung*

No comments:

Post a Comment