Tuesday, June 21, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 8



CUPLIKAN PART SEBELUMNYA

            “Apa maumu?” tanya madam Ros setengah membentak. Tak ada rasa takut dalam dirinya.

           Ham menyembunyikan taringnya lagi. “Aku cuma mau tahu dimana manusia special itu.”


            “Aku tidak tahu,” jawab madam Ros cepat.

            “Kamu tahu, kan, aku bisa membunuhmu sekarang juga. Jadi katakan sejujurnya, karena aku tahu nenek-nenek moyangmu adalah peneliti vampire. Mana mungkin sampai sekarang kamu belum menemukan manusia special. Atau kamu mau aku menghisap darahmu sekarang?” ancam Ham.


            “Aku memang sudah menemukan manusia special bagi vampire. Tapi aku tidak tahu mendetail mengenai dia, karena dia keburu pergi.”

            “Kalau gitu, katakan dimana aku bisa menemukan dia, bagaimana caranya, dan apa dia laki-laki? Katakan padaku apa yang sudah kamu tahu mengenai manusia special.”

            “Aku tidak bisa mengatakan apa yang telah aku ketahui tentang dia.”

            “Apa?!” bentak Ham.


Part 8 

           “Tapi, aku bisa mengatakan apa yang sudah kamu temukan atau yang akan kamu temukan.”

            Ham diam. Kemudian madam Ros memintanya memperlihatkan telapak tangannya. Saat madam Ros memperhatikan telapak tangan Ham, beberapa saat kemudian dia terkejut.

            “Ada apa? Apa aku akan segera menemukannya?” tanya Ham.

            “Kamu sudah dekat. Aku yakin kamu akan segera menemukannya.”

            “Apa dia anak yang satu sekolah denganku? Laki-laki atau perempuan?”

            “Aku tidak tahu dia sekolah dimana. Dia perempuan.”

             Madam Ros menjawab setiap pertanyaan Ham dengan jujur. Tak banyak yang bisa madam Ros jawabkan karena dia memang tidak tahu banyak. Namun, ada hal lain dari Ham yang tidak dikatakannya.

edededede

            Sore itu, Wenda duduk di bawah pohon yang berada beberapa meter di belakang rumah. Pohon yang rindang sangat nyaman berada di bawahnya. Dia berkutat dengan buku gambarnya.

            “Rrrr… Kenapa aku selalu menggambar wajah ini? Siapa dia?” kesal Wenda, kemudian dia meletakkan buku gambarnya di atas rerumputan.                               

            Angin berhembus kencang memainkan rambut panjang Wenda. Halaman buku gambar membuka satu per satu karena angin. Ya, benar saja. Setiap isi buku gambar itu terdapat gambar yang sama. Wajah seorang laki-laki yang Wenda tak tahu orangnya siapa. Entah mengapa sejak beberapa hari yang lalu dia hanya bisa menggambar wajah itu. Setiap kali dia mencoba menggambar karena itu memang hobinya, dia tak bisa menggambar hal lain lagi selain wajah itu.

            Grrrrt…

            Ponsel Wenda bergetar karena ada panggilan masuk. Lalu dia mengangkat panggilan.

            “Iya, ma?”

            “Kamu dimana? Bantu ibu anterin pesanan.”

            “Iya, ma. Aku di belakang rumah kok. Aku ke sana sekarang.”

            Setelah panggilan tertutup, Wenda segera kembali ke rumah. Tak lupa dia membawa buku gambarnya.

            “Bukan hanya wajahnya yang mirip. Bakatnya pun sama,” gumam Dicky yang berdiri di bawah pohon sambil melihat Wenda yang berjalan menjauh.

Flashback to 100 years ago

            Seorang gadis berwajah seperti Wenda sedang menggambar sketsa seseorang di tanah menggunakan sebuah ranting. Pakaiannya hanya sebuah kain membalut tubuhnya. Seperti itulah pakaiannya sehari-hari. Rambutnya dikepang dua dengan sangat rapi. Ibunya yang baru saja melakukannya.

            “Dicky, jangan bergerak!” bentak Tini saat Dicky bergerak.

            “Tapi aku capek,” keluh Dicky.

          “Sebentar. Sedikit lagi.” Tini tampak serius menggoreskan ranting-ranting itu ke tanah.

Flashback end


            Ham melakukan pertemuan dengan kedua teman vampire-nya. Ham menyuruh agar mereka berhenti sekolah dan bersekolah di SMA tempatnya bersekolah. Ham juga menceritakan pertemuannya dengan dukun semalam.

           “Apa itu nggak malah mencurigakan? Tiba-tiba banyak murid baru.” tanya Rangga. “Bagaimana kalau aku dan Mulda diam-diam masuk tanpa berpura-pura jadi siswa? Kita akan mengawasi diam-diam,” saran Rangga.

             “Terserah kalian saja. Selama kalian mencari manusia special.”

edededede

            Seperti biasa, saat bangun tidur, Ara langsung ke jendela untuk membuka gorden. Ada yang berbeda. Di jendela tergantung beberapa bawang putih. Tak hanya di sana, di pintu juga ada. Ara meraba lehernya. Ada kalung bawang putih. Kemudian dia tersenyum bahagia.

Flashback to last night

            Pemuda itu mengantar Ara pulang. Dia menggabungkan beberapa bawang putih dengan benang. Kemudian menggantungkannya di pintu dan setiap jendela apartemen Ara. Ara tak melakukan apa-apa untuk mencegah pemuda itu. Lagipula dia tak memikirkan apa yang dilakukan pemuda itu. Dia sangat senang pemuda itu ada di dekatnya.

            “Jangan lepas bawang ini. Kalau sudah mau membusuk, ganti dengan yang baru. Dan ingat, kalau kamu mau keluar malam, jangan lupa pakai bawang putih. Dan jangan lupa bawa cadangan di tas.”

Flashback end

            Ara bersiap pergi ke sekolah. Setelah mandi dan berganti seragam sekolah, dia siap untuk pergi. Lalu dia ingat ucapan pemuda semalam.

            “Apa aku harus bawa?” tanyanya pada dirinya sendiri. Nanti sepertinya dia harus ngelembur karena kemarin tidak bekerja.

edededede

            Hari itu Riri tidak masuk sekolah karena sakit. Rupanya dia tertular virus dari Rafael yang sekarang malah sudah sehat.

            “Selamat pagi, anak-anak!” sapa Bu’ Rahma memasuki kelas.

            “Pagi, Bu,” jawab semua murid. Tiba-tiba ekspresi mereka menjadi bertanya-tanya kerena bu’ Rahma masuk tidak sendiri. Ia bersama seorang murid yang mereka tidak kenal. Namun, tidak bagi Wenda. Wajah murid yang ternyata murid baru itu tidak asing bagi Wenda. Segera dia mengeluarkan buku gambarnya dari laci. Dibukanya buku gambar itu. Dia memperhatikan baik-baik wajah yang ia gambar dan membandingkannya dengan pemuda itu. Tiba-tiba Wenda merasa aneh. Tangannya nampak bergetar. Wenda tidak tahu mengapa demikian. Dia mungkin terkejut. Kenapa orang yang baru dia temui hari ini bisa dia gambar wajahnya bahkan beberapa hari yang lalu.

            “Terimakasih atas perkenalannya, Dicky. Sekarang kamu duduk di…. Ah, di samping Wenda saja.”

            Seketika Wenda tersentak. Dia kembali ke kesadarannya. “Maaf, bu’. Tapi ini tempat Riri,” kata Wenda yang sebenarnya tidak mau duduk di dekat murid baru itu.

            “Tidak ada tempat lain. Lagi pula Riri lagi sakit. Nanti kalau Riri sudah datang, biar ibu yang bicara sama dia supaya dia bisa mengerti, dan nati akan ibu carikan dia bangku lain.”

            Ketika Dicky mendekat, segera Wenda memasukkan kembali buku gambarnya ke laci.

edededede

--------------


*Bersambung*

No comments:

Post a Comment