Monday, June 20, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 7


        “Pakai ini,” kata pemuda itu sambil mengenakan kalung bawang putih yang ia keluarkan dari tasnya ke leher Ara. Dia meyembunyikan kalung itu di balik jaket Ara.

            “Apa ini?” tanya Ara bingung.


            “Kamu tidak perlu tahu dengan jelas. Kamu hanya perlu tahu, jika kamu keluar malam, ada yang mengancam keselamatanmu,” jawab pemuda itu menerangkan dengan tak jelas.

            “Maksudnya?”

            “Kamu harus janji, kamu nggak akan keluar malam. Kalaupun memang harus keluar malam, kamu harus mengenakan kalung bawang putih ini. Oke?”

            Seolah terhipnotis, Ara mengangguk. Walaupun dia bingung dengan maksud ucapan pemuda itu, tapi dia senang karena pemuda yang ia cintainya mengkhawatirkannya.

            “Kamu mau kemana? Biar aku antar,” tawar pemuda itu.

            “Aku…” Ara berpikir. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia mengikutinya.

edededede

            Festival Starlit Night yang terletak di tengah kota sudah penuh dengan pengunjung. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, semua ada di sana. Festival yang diadakan hanya seminggu sekali itu menarik banyak pengunjung terutama anak-anak dan remaja. Banyak permainan yang bisa dimainkan di sana. Pameran-pamerannya pun menarik. Festival ini akan terus ada hingga satu tahun kedepan.

            “Kamu percaya yang kayak ginian?” tanya Bisma pada Wenda sambil melihat papan bertuliskan ‘RAMAL NASIBMU DI SINI’ di depan sebuah tenda.
            “Enggak,” geleng Wenda.

            “Aku juga nggak percaya. Tapi gimana kalau kita coba. Kita lihat apakah peramal ini peramal sungguhan atau peramal gadungan,” ajak Bisma.

            “Boleh juga.”

            Mereka berdua pun masuk ke dalam tenda. Latar warna tenda di dalam adalah hitam. Sesuai dengan warna kesukaan kebanyakan peramal. Banyak sesuatu tak penting yang menggantung. Seorang yang merupakan peramal duduk di depan meja tanpa bola kristal di hadapannya, bahkan di mejanya tak ada apapun.

            “Silahkan duduk.” Peramal yang berusia 30-an tahun itu mempersilahkan.

            Wenda dan Bisma duduk di depan peramal.

            “Sebelumnya, panggil aku madam Ros,” ucap peramal itu. Rambutnya yang keriting nan ikal yang panjangnya sebahu dibiarkan terurai, dan penampilannya yang serba hitam membuatnya terlihat seram. “Kalian pasti pasangan yang mau diramal hubungannya.” Kemudian dia meminta Bisma mengulurkan tangannya. Madam Ros memperhatikan telapak tangan Bisma dengan seksama.

            “Kamu pasti menganggap aku peramal gadungan. Supaya kamu percaya, aku mau lihat telapak tanganmu, aku akan melihat latar belakangmu. Kamu anak satu-satunya. Kamu hidup berkecukupan. Kamu juga cukup dikenal oleh orang-orang di sekitarmu. Kamu belum lama mendapatkan pacar. Tapi sayang... Tunggu, apa ini?”

            “Apa?” tanya Bisma. Sepertinya, kalimat menggantung madam Ros membuat Bisma penasaran.

            “Boleh aku lihat tanganmu?” tanya madam Ros pada Wenda.

          Tanpa segan, Wenda memperlihatkan telapak tangannya. Madam Ros memperhatikan dengan seksama lagi. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah setelah bebarapa saat memperhatikan garis tangan Wenda.

            “Kamu…” ucap madam Ros dengan ekspresi setengah percaya. “Kamu harus berhati-hati. Kejadian besar akan terulang. Tapi, kali ini lebih berbahaya. Akan ada korban. Orang di sekitarmu ikut dalam masalah ini.”

            “Apa maksud madam?! Bahaya apa? Madam cuma mau nakut-nakutin kami dengan kebohongan madam, kan?!” Bisma membentak. “Ayo kita pergi.” Bisma menarik tangan Wenda untuk mengajaknya pergi.

            “Aku minta maaf udah ngajak kamu ke sana,” ucap Bisma menyesal.

         “Kamu percaya peramal gadungan itu?” tanya Bisma menghentikan langkahnya karena Wenda tak merespon ucapannya.

            “Entahlah. Sebenarnya aku nggak percaya kayak gituan. Tapi, aku ngerasa aneh aja setelah denger apa yang dikatakan madam Ros.”

            Bisma memegang kedua pundak Wenda. Dia juga sedikit mencondongkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Wenda.

            “Begitulah cara peramal mendapatkan uang. Mereka pintar memainkan perasaan orang lain,” ucap Bisma menyugesti Wenda agar tak terpengaruh.

edededede

           Ham berdiri di depan tenda peramal madam Ros. Setelah beberapa saat memandangi tenda itu, dia masuk ke dalam. Setelah duduk di depan madam Ros, seperti biasa, dia meminta pelanggannya memperlihatkan tangannya.

            “Aku ke sini bukan mau di ramal,” ketus Ham.

            “Lalu?” tanya madam Ros dengan tatapan seperti mencoba menerawang sesuatu.

            “Kamu pasti tahu manusia special itu.”

            “Siapa kamu?” tanya madam Ros dengan tatapan yang lebih serius dari sebelumnya.

            Ham tersenyum lalu taringnya memanjang.

            “Vampir,” lirih madam Ros sambil menajamkan tatapannya.

            “Mencari bawang putihmu? Aku sudah menyuruh manusia untuk menyingkirkannya tanpa kamu ketahui,” ucap Ham membaca gerakan tangan madam Ros yang mencari sesuatu di sarungnya (tas berukuran sedang yang terbuat dari kain). Biasanya madam Ros menyimpan banyak bawang putih di sarungnya.

            “Apa maumu?” tanya madam Ros setengah membentak.

            Ham menyembunyikan taringnya lagi. “Aku cuma mau tahu dimana manusia special itu.”

            “Aku tidak tahu,” jawab madam Ros cepat.

            “Kamu tahu, kan, aku bisa membunuhmu sekarang juga. Jadi katakan sejujurnya, karena aku tahu nenek-nenek moyangmu adalah peneliti vampire. Mana mungkin sampai sekarang kamu belum menemukan manusia special. Atau kamu mau aku menghisap darahmu sekarang?” ancam Ham.

            “Aku memang sudah menemukan manusia special bagi vampire. Tapi aku tidak tahu mendetail mengenai dia, karena dia keburu pergi.”

            “Kalau gitu, katakan dimana aku bisa menemukan dia, bagaimana caranya, dan apa dia laki-laki? Katakan padaku apa yang sudah kamu tahu mengenai manusia special.”

            “Aku tidak bisa mengatakan apa yang telah aku ketahui tentang dia.”

            “Apa?!” bentak Ham. Matanya melotot, nampak hendak keluar.

--------------


*Bersambung*

No comments:

Post a Comment