Friday, June 17, 2016

[Cerbung] Marmetu Manis part 6


            “Hiks… Kak Rafa jahat. Kenapa nggak bilang kalau kak Rafa sakit. Hiks… Orang lain tahu, tapi aku yang pacarnya kak Rafa malah nggak tahu. Hiks…” ujar Riri seraya menangis.

            “Maaf. Kalau kamu tahu aku sakit, kamu pasti ke sini.”

            “Memang kenapa kalau aku ke sini? Seharusnya kak Rafa seneng dong.”

            “Aku nggak mau kamu juga ikut sakit. Aku sakit pilek, Ri. Ini menular.”

          “Tapi kita kan udah janji untuk melawati semuanya sama-sama. Suka ataupun duka kita lewati bersama.”

            “Iya. Tapi kalau kamu sakit, aku juga akan semakin sakit.”

            “Kak Rafa pikir cuman kak Rafa yang kayak gitu. Aku juga, kak. Sekarang aja aku juga udah sakit.”


            “Riri…” Tiba-tiba tante Vina masuk. Segera Riri menghapus air matanya lalu berdiri.

“Eh, kamu sudah bangun, sayang,” ujar tante Vina melihat Rafael telah bangun. “Bubur untukmu sudah mama panasin. Makan ya. Riri, kamu juga makan. Tante udah masak buat kamu. Dari sekolah langsung ke sini, kamu pasti belum makan siang, kan?”

edededede

            Ara mondar-mandir di depan kamar apartemennya. Di tangannya memegang kotak yang dibungkus dengan kain dengan gambar bunga. Ketika terdengar pintu terbuka dari kamar sebelah, dia segera berbalik dan menghampiri orang yang keluar.

            “Tunggu,” cegah Ara karena pemuda tetangga sebelah hendak pergi. Pemuda tetangga sebelah tak tahu kalau Ara sedang menunggunya.

            “Ada apa?” tanya pemuda tetangga sebelah.

            “Tentang yang kemarin, aku mau mengucapkan terimakasih dan maaf.”

            “Maaf?” kata pemuda tetangga sebelah dengan heran.

      “Iya. Terimakasih karena telah menemaniku semalaman. Dan maaf karena telah mengganggu waktumu.”

     Setelah mengucapkan kalimat itu, Ara tak mendengar apapun. Pemuda itu tak mengatakan apa-apa. Ara yang dari berbicara tanpa menatap pemuda itu, akhirnya mengangkat wajahnya. Tak ada ekspresi di wajah pemuda itu. Namun, walau demikian, tetap membuat jantung Ara berdegup semakin kencang.

            “Oh iya, ini.” Ara memberikan kotak yang telah ia bungkus rapi dengan kain. “Ini kue yang aku buat sendiri sebagai ucapan terimakasihku dan ucapan maafku.”

            Pemuda itu mengambilnya dengan tak lupa mengucapkan terimakasih. Kemudian dia pergi.

            Ara tersenyum melihat pemuda itu. Dia tak peduli dengan sikap dingin pemuda itu. Tiba-tiba sebuah nada dering menghentakkannya.

            “Iya, Wen?”

        “Riri nggak jadi pergi ke festival karena kak Rafael sakit,” kata Wenda yang ada di seberang telepon. “Kalau kamu jadi, kan?”

            “Aku juga nggak jadi deh, Wen.”

            “Kenapa?”

            “Entar aku ganggu kamu sama kak Bisma, lagi.”

        “Enggak lah, Ra. Pergi ya?” Wenda berusaha mengajak Ara. Dia tidak mau hanya berdua dengan Bisma, karena itu akan membuatnya canggung.

            “Nggak, Wen. Aku juga ada urusan lain sekarang.”

            “Tapi, Ra…” Wenda masih ingin membujuk Ara agar pergi, tapi lagi-lagi Ara menolak dan langsung mematikan ponselnya.

          Ara mengerti bagaimana perasaan Wenda terhadap Bisma. Dan dia melakukan ini agar Wenda bisa membuka perasaannya untuk Bisma.

            Ara yang masih di depan kamar apartemennya hendak masuk ke dalam. Tapi, mendadak ada rencana lain. Mumpung dia tidak bekerja. Dia ingin mengukuti pemuda itu untuk mencaritahu di mana dia bekerja. Selama ini, dia tak punya kesempatan untuk melakukan itu karena dia harus bekerja setiap hari. Di hari cutinya ini, dia mengikuti pemuda itu.

            Segera dia berlari agar tak tertinggal jauh dari pemuda itu. Dia berhasil. Pemuda itu belum jauh meninggalkan apartemen. Ara terus mengikuti pemuda itu secara diam-diam. Sepertinya pemuda itu merasakan ada orang yang mengikutinya, karena sesekali dia berbalik. Saat pemuda itu berbalik, dengan cepat Ara bersembunyi. Entah itu di balik tembok, pohon, atau tempat sampah besar. Namun, sekarang Ara kehilangan dia. Ara melihat sekeliling, tapi tak ada siapapun. Kemana perginya pemuda itu? Padahal Ara hanya sebentar tak melihatnya.

            Slep…

            Tiba-tiba Ara melihat sekelebat orang berpakaian hitam lewat. Seketika, bulu kuduknya langsung berdiri. Dia mendekap tubuhnya karena angin malam yang bertiup. Kelebatan-kelebatan bayangan itu terus bergerak. Namun Ara tak dapat melihat sosok apa itu. Ara pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya.

            Tap!

            Tiba-tiba seseorang menarik lengannya. Ara hampir berteriak jika orang itu tak segera mendekap mulutnya.

            “Ngapain keluar malam-malam?!” tanya orang itu dengan nada setengah membentak sambil melepas tangannya dari mulut Ara. Dia adalah pemuda tetangga sebelah.

            Ara bingung. Pertama, dia takut jika pemuda itu mengetahui dia membuntutinya. Kedua, karena nada suara pemuda itu membuatnya terkejut.

--------------


*Bersambung*

No comments:

Post a Comment